JAKARTA, AFU.ID - Langit percakapan di kanal Akbar Faizal Uncensored mendadak terasa tegang ketika analis militer Connie Rahakundini Bakrie mulai menimbang langkah Indonesia dalam skema internasional yang disebut BOP—forum yang disebut-sebut berkaitan dengan upaya perdamaian di kawasan konflik Timur Tengah.
Di sana, diskusi tidak sekadar soal angka Rp17 triliun yang sempat menjadi perdebatan publik. Pemerintah, kata Connie, sudah memberi penjelasan setelah pertemuan Presiden dengan para pemimpin agama: dana itu belum keluar. Bahkan disebutkan, jika Palestina tidak merdeka, Indonesia dapat menarik diri dari kesepakatan tersebut.
Namun bagi Connie, persoalan sesungguhnya tidak berhenti pada klarifikasi anggaran. Ada pertanyaan yang lebih besar: apakah Indonesia siap berpindah dari posisi moral—mengecam dan berdemo—menjadi pemain langsung dalam panggung geopolitik?
“Sudah puluhan tahun kita hanya mengecam,” katanya. Demonstrasi demi demonstrasi digelar, isu Palestina bahkan kerap menjadi komoditas politik dalam negeri. Tetapi di medan nyata, penderitaan rakyat Palestina tetap berjalan. Anak-anak kelaparan, air bersih langka, dan tembakan tidak berhenti.
Dalam logika itu, Connie memahami jika Presiden Prabowo Subianto mencoba melihat persoalan dengan cara pandang baru. Dunia internasional, katanya, tidak lagi bergerak hanya oleh sentimen solidaritas, melainkan oleh kalkulasi kepentingan dan struktur kekuatan.
Namun di titik yang sama, ia juga mengingatkan risiko besar jika Indonesia masuk terlalu jauh tanpa persiapan matang.
“Indonesia bukan negara penonton, dia harus jadi pemain,” ujarnya. Tetapi menjadi pemain berarti memahami seluruh konsekuensi: operasi keamanan, koordinasi militer, hingga kemungkinan mengirim pasukan ke wilayah konflik yang sangat volatil.
Ia bahkan mengingatkan bahwa struktur organisasi forum seperti BOP masih menyisakan banyak tanda tanya. Siapa pengambil keputusan? Bagaimana mekanisme militernya? Apakah Palestina sendiri ada di dalam forum itu?
Pertanyaan itu, menurut Connie, justru menjadi alasan mengapa negara besar seperti Rusia dan China belum bergabung. “Kalau Palestina saja tidak ada di situ, ini sebenarnya forum apa?” katanya.
Kekhawatiran lain lebih konkret: keselamatan prajurit Indonesia. Mengirim pasukan ke Gaza atau kawasan konflik Timur Tengah bukan sekadar misi diplomasi, melainkan risiko pertempuran nyata.
Ia mengingatkan pengalaman konflik di Papua yang masih menyisakan luka bagi militer Indonesia. Jika di wilayah sendiri saja korban masih jatuh, maka mengirim pasukan ke mandala perang yang jauh dan kompleks harus dipikirkan berlapis-lapis.
Karena itu Connie menegaskan kritiknya bukan berarti menolak forum tersebut sepenuhnya. Ia hanya meminta negara berhati-hati agar “Board of Peace” tidak berubah menjadi “Board of War”.
Di ujung percakapan, nada diskusi berubah lebih personal. Connie tertawa ketika menyebut dirinya sering “patah hati” memikirkan Indonesia, tetapi tetap jatuh cinta pada negeri ini setiap hari.
Kalimat itu terdengar ringan, namun menyimpan kegelisahan yang dalam: bagaimana sebuah negara besar dengan populasi Muslim terbesar di dunia menempatkan dirinya dalam konflik global yang semakin rumit.
Di tengah gemuruh geopolitik Timur Tengah, pertanyaan itu masih menggantung—apakah Indonesia akan tetap berdiri sebagai pengamat yang bersuara keras, atau melangkah masuk sebagai pemain dengan segala risikonya. (bs)