JAKARTA, AFU.ID — Kementerian Kesehatan mencatat 95 persen lansia yang menjalani pemeriksaan kesehatan masih kurang melakukan aktivitas fisik. Temuan itu menjadi alarm di tengah jumlah penduduk lanjut usia Indonesia yang telah mencapai sekitar 34 juta jiwa.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan Indonesia telah memasuki era ageing population. Jumlah lansia kini hampir mencapai 12 persen dari total populasi nasional.
Menurut Benjamin, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari meningkatnya angka harapan hidup. Pemerintah juga harus memastikan masyarakat tetap sehat, aktif, mandiri, dan bermartabat saat memasuki usia lanjut.
“Kita ingin masyarakat Indonesia hidup lebih panjang dalam keadaan sehat, bukan hidup lebih lama tetapi dalam kondisi sakit,” kata Benjamin dalam keterangan tertulis, Minggu, (14/6/2026).
Data Kemenkes menunjukkan risiko kesehatan lansia masih tinggi. Dari pemeriksaan terhadap sekitar 6,8 juta lansia, sebanyak 95 persen tercatat kurang aktivitas fisik.
Selain itu, 58 persen lansia memiliki tekanan darah di atas normal. Sebanyak 51 persen lainnya mengalami kelebihan berat badan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan data tersebut menunjukkan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit masih perlu diperkuat. Tujuannya agar lansia tetap sehat, aktif, dan mandiri.
“Data ini menunjukkan bahwa upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit harus terus diperkuat agar lansia Indonesia dapat tetap sehat, aktif, dan mandiri,” kata Maria.
Kemenkes menyebut penyakit tidak menular masih menjadi penyebab utama kecacatan dan kematian pada usia lanjut. Penyakit seperti hipertensi, diabetes, stroke, hingga gagal ginjal menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan lansia.
Benjamin mengatakan sebagian besar beban penyakit pada lansia sebenarnya dapat dicegah sejak usia muda. Ia menekankan pentingnya pola makan sehat, aktivitas fisik cukup, dan pemeriksaan kesehatan rutin.
“Banyak kasus stroke dan gagal ginjal sebenarnya berawal dari hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol,” ujarnya.
Kemenkes juga mendorong masyarakat melakukan aktivitas fisik sederhana. Salah satunya berjalan kaki atau berolahraga minimal 30 menit sehari selama lima hari dalam sepekan.
Di sisi layanan, pemerintah memperluas puskesmas ramah lansia melalui transformasi layanan primer. Kemenkes mencatat 8.911 puskesmas telah menerapkan Integrasi Layanan Primer yang melayani seluruh siklus hidup, termasuk lansia.
Selain itu, 9.013 puskesmas disebut telah menyelenggarakan layanan perawatan jangka panjang. Sebanyak 7.887 puskesmas juga telah menjadi puskesmas ramah lansia.
Namun, besarnya angka lansia berisiko menunjukkan pekerjaan pemerintah belum selesai. Layanan ramah lansia tidak cukup hanya tersedia di atas data, tetapi harus mampu mencegah penyakit, menjangkau keluarga, dan memastikan lansia tetap mandiri di rumah maupun komunitas.
Indonesia Active Ageing Summit 2026 menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat layanan kesehatan lansia. Ukurannya bukan sekadar banyaknya program, melainkan apakah lansia benar-benar dapat hidup lebih sehat, aktif, dan tidak menjadi korban lemahnya pencegahan penyakit. (RHU)