JAKARTA, AFU.ID — Produk ikan nila atau tilapia menjadi jagoan baru ekspor Indonesia usai berhasil merambah pasar Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP) RI, Sakti Wahyu Trenggono, menyampaikan bahwa pihaknya terus mengakselerasi produksi ikan nila atau tilapia guna memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Oleh karenanya, Sakti Wahyu Trenggono menyebut kementeriannya akan memaksimalkan kawasan budi daya ikan nila salin (BINS) di Karawang dan merevitalisasi tambak Pantai Utara (Pantura).
“Dua program ini untuk meningkatkan kapasitas produksi nila nasional, sekaligus memastikan seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional yang berlaku,” ungkapnya di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Sementara itu, Erwin Dwiyana selaku Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP RI menyatakan bahwa tilapia menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen global.
Erwin Dwiyana menyebut, tilapia kini terkenal sebagai ‘chicken of the sea’ karena mempunyai rasa yang ringan dan mudah diolah.
Tak hanya itu, tilapia sangat kaya akan kandungan protein tinggi, yaitu sekitar 20 hingga 29 gram per 100 gram sajian.
Tilapia juga disebut rendah lemak jenuh, mengandung asam lemak Omega-3, 6, dan 9, vitamin B12, serta mineral yang bermanfaat bagi kesehatan.
“Saat ini, tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang nol penolakan,” tutur Erwin Dwiyana.
Ia menilai, kelengkapan sertifikasi seperti GMP-SSOP, HACCP, health certificate, hingga sertifikasi ISO 22000, SQF, BAP, ASC, dan BRC menjadi kunci utama kepercayaan pasar internasional.
Dengan begitu, produk tilapia Indonesia dapat diterima tanpa penolakan di negara tujuan ekspor.
Salah satu produsen utama ikan nila, Regal Springs Indonesia telah menembus pasar internasional.
Regal Springs Indonesia bahkan tercatat menjadi pemasok jaringan pub terkemuka di Inggris, yaitu Greene King.
Direktur Regal Springs Indonesia, Tri Dharma Saputra menjelaskan, keberhasilan menembus pasar Inggris tak terlepas dari pemenuhan berbagai sertifikasi, termasuk Aquaculture Stewardship Council (ASC).
“Dengan adanya ASC, budi daya perikanan dituntut untuk bisa bertransformasi,” ujarnya.
“Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi, mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan,” sambungnya.
Tri Dharma Saputra pun mengaku, transformasi tersebut memastikan tilapia Indonesia tak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan, di Inggris, tilapia diolah menjadi berbagai menu, seperti fish and chips dan hidangan boneless untuk segmen fine dining, dengan tingkat keluhan konsumen yang rendah.
Dari sisi harga, tilapia juga dinilai kompetitif dari ikan putih lainnya, sehingga mampu bersaing dengan komoditas yang lebih mapan seperti kod dan trout. (ADR)