JAKARTA, AFU.ID — Kekhawatiran baru muncul di kalangan pemimpin Eropa terkait ketergantungan berlebihan pada Amerika Serikat (AS) setelah kawasan tersebut menghentikan penggunaan energi dari Rusia. Pasokan gas alam cair (LNG) dari AS kini mendominasi kebutuhan energi Eropa hingga menimbulkan pertanyaan soal kedaulatan kebijakan energi domestik. Laporan ini diungkap surat kabar The New York Times dalam pemberitaan terbarunya.
Pemasok energi AS saat ini menyumbang sekitar dua pertiga dari total pasokan LNG ke Eropa. Angka tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 80 persen pada akhir dekade ini. Lonjakan pangsa pasar ini menjadikan Washington sebagai pemain dominan tunggal dalam rantai pasok energi Eropa.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pemimpin pertahanan dan energi kawasan tersebut. Menurut menurut laporan The New York Times, ketergantungan baru ini dinilai memberi pengaruh yang terlalu besar kepada Washington atas arah kebijakan energi Eropa. Dewan Uni Eropa sebelumnya telah menyetujui regulasi penghentian bertahap impor LNG dan gas pipa dari Rusia pada Januari. Larangan impor LNG berdasarkan kontrak jangka pendek resmi berlaku sejak 25 April 2026. Kontrak jangka panjang untuk komoditas serupa dijadwalkan menyusul mulai 1 Januari 2027.
Larangan serupa turut diberlakukan terhadap impor gas melalui jalur pipa dari Rusia. Kontrak jangka pendek untuk gas pipa mulai dihentikan sejak 17 Juni 2026. Kontrak jangka panjang untuk jalur yang sama dijadwalkan berakhir pada 1 November 2027. Rusia di sisi lain menilai negara-negara Barat telah melakukan kesalahan besar dengan menghentikan pembelian hidrokarbon dari Moskow. Kebijakan tersebut dinilai justru menciptakan ketergantungan baru yang lebih kuat akibat harga energi yang melambung. Negara-negara yang menolak membeli energi secara langsung disebut tetap akan memperoleh minyak dan gas Rusia melalui perantara dengan harga lebih mahal. (NAD)