AFU.id

2.587 Koperasi Punya Peluang Hilirisasi, Pabrik CPO Jadi Jalan Naik Kelas Petani Sawit

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Kementerian Koperasi Republik Indonesia mendorong hilirisasi industri kelapa sawit melalui pengembangan pabrik Crude Palm Oil (CPO) berbasis koperasi, yang diharapkan dapat meningkatkan daya tawar dan kesejahteraan petani sawit. Pabrik yang diresmikan di Kabupaten Banyuasin ini merupakan contoh nyata dari upaya memperkuat posisi koperasi dalam rantai industri, dengan kapasitas produksi yang ditingkatkan dan peluang pengembangan lebih lanjut untuk memproduksi produk turunan. Kemenkop RI juga menekankan pentingnya konsolidasi petani dan dukungan finansial untuk memastikan keberlanjutan operasional pabrik dan pengelolaan lahan yang melibatkan masyarakat.

2.587 Koperasi Punya Peluang Hilirisasi, Pabrik CPO Jadi Jalan Naik Kelas Petani Sawit
Menkop RI, Ferry Juliantono meresmikan Pabrik Kelapa Sawit atau CPO milik KUD Sejahtera di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan, Rabu (12/8/2026). (Foto: Kemenkop RI)

Pabrik CPO Koperasi Masuk Rantai Hilirisasi Sawit

Sementara itu, Mohammad Abdul Ghani selaku Direktur Utama (Dirut) PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menjelaskan, pihaknya mendapat penugasan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2025 untuk mengelola kebun sawit hasil sitaan. Yang mana, luas lahan titipan mencapai 4,1 juta hektare dan pengelolaannya mengarah untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Adapun dari luasan itu, sedikitnya 20% wajib teralokasikan sebagai plasma untuk rakyat melalui kemitraan.

Mohammad Abdul Ghani menekankan, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) mengutamakan koperasi di sekitar lahan sebagai vendor pemelihara tanaman, panen, dan kegiatan lainnya. “Dengan luasnya area yang kami kelola, koperasi menjadi mitra utama dalam mendukung hilirisasi sawit sekaligus ketahanan pangan,” ujarnya.

Menkop Ferry pun menilai, koperasi dapat mengambil posisi lebih strategis dalam industri sawit. Koperasi tak hanya menjadi pengelola kebun, melainkan pemilik sekaligus pengelola pabrik pengolahan CPO. Semakin banyak koperasi bergerak dari sektor hulu menuju hilir, maka semakin besar peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Koperasi didorong mendirikan pabrik CPO sendiri agar kebutuhan minyak goreng dan produk turunannya dapat dipenuhi secara mandiri,” paparnya.

Hilirisasi berbasis koperasi tentu saja menawarkan peluang mempersempit jarak antara petani dan nilai ekonomi komoditas sawit. Namun, kepemilikan pabrik CPO harus berimbang dengan tata kelola, pasokan bahan baku, pembiayaan, dan akses pasar yang memadai. Tanpa itu, ekspansi industri koperasi berisiko berhenti pada pembangunan fasilitas, bukan peningkatan kesejahteraan petani sawit. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi