Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Gajah Mati Mendadak, Virus Ganas Ancam Spesies Gajah Aceh
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Serangan virus Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) mengancam anak gajah di Aceh, dengan salah satu korbannya, Yuna, yang berusia di bawah tiga tahun, meninggal mendadak dalam waktu empat jam setelah menunjukkan gejala serius. Meskipun sebelumnya dalam kondisi sehat, Yuna mengalami pembengkakan wajah dan lidah kebiruan, yang menunjukkan perkembangan penyakit yang sangat cepat dan fatal. Kepala BKSDA Provinsi Aceh, Ujang Wisnu Barata, menyatakan pentingnya deteksi dini terhadap anak gajah lainnya guna mencegah penyebaran virus ini, yang dapat memiliki tingkat kematian hingga 80%.
Yuna, gajah anakan betina berusia di bawah tiga tahun yang mati mendadak dan kuat dugaan akibat serangan EEHV di Provinsi Aceh. (Foto: Kemenhut RI)
JAKARTA, AFU.ID — Serangan Elephant Endotheliotropic Herpesvrius (EEHV) mengancam anak gajah yang ada di Provinsi Aceh. Salah satu korbannya ialah Yuna, gajah anakan betina berusia di bawah tiga tahun yang mati mendadak dan kuat dugaan akibat virus itu. Kondisinya memburuk hanya dalam empat jam usai sebelumnya masih aktif beraktivitas pada Selasa (11/8/2026).
Peristiwa tersebut menunjukkan betapa cepatnya perkembangan penyakit yang terkenal sangat mematikan bagi anak gajah. Berdasarkan pemeriksaan awal tim medis Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, kondisi Yuna mulai berubah sekira pukul 16.00 WIB. Mahout alias pawang gajah menemukan mata Yuna bengkak dan merah, wajah membengkak, serta lidah pucat membiru.
Tim dokter hewan BKSDA Provinsi lantas memberikan infus dan multivitamin sebagai langkah tindakan medis darurat. Akan tetapi, kondisi Yuna terus menurun yang akhirnya terjatuh dalam kondisi lemas dan meninggal sekira pukul 20.48 WIB. Anak dari induk Gajah Suci itu langsung menjalani nekropsi dan penyelesaian proses pemakaman, Rabu (12/8/2026), sekira pukul 00.30 WIB.
Sebelumnya, kondisi kesehatan Yuna selalu dalam pemantauan rutin dan evaluasi berkala oleh tim BKSDA Provinsi Aceh. Pemeriksaan medis terakhir pada Juni 2026 menunjukkan, Yuna dalam kondisi sehat dengan Body Condition Index Score (BCIS) 5,5. Nilai itu masih berada dalam kisaran ideal gajah jinak yang berada pada 5 hingga 7.
Di sisi lain, BKSDA Provinsi Aceh tak menemukan gejala sakit maupun penurunan kondisi fisik Yuna selama dua hari sebelum kematiannya. Perubahan kondisi yang sangat cepat membuat tim medis mengarahkan diagnosis awal pada serangan virus yang dapat berkembang secara fatal. Sampel organ kemudian diambil untuk memastikan penyebab kematian melalui pemeriksaan laboratorium.
“Kondisi Yuna drop sangat cepat, yang berdasarkan diagnosa awal dipicu oleh serangan virus mematikan bagi anak gajah. Secara makroskopis, gejalanya terlihat dari pembengkakan wajah, mata merah, dan mukosa lidah kebiruan, serta perubahan mikroskopis berupa pendarahan pada organ pencernaan dalam. Untuk mempertegas penyebab pasti berpulangnya Yuna, kami telah mengambil sampel organ guna pengujian laboratorium lebih lanjut,” ungkap Kepala BKSDA Provinsi Aceh, Ujang Wisnu Barata, Rabu (12/8/2026).
Serangan Virus EEHV Dorong Deteksi Dini Anak Gajah
Ujang Wisnu Barata lantas menjelaskan, EEHV merupakan virus herpes yang secara khusus menyerang anak gajah. Yang mana, virusnya dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah atau endothelium. Kerusakan itu menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh menuju organ dalam hingga memicu kondisi fatal.
Ia menyampaikan, serangan virus EEHV dapat berkembang sangat cepat hingga menyebabkan kematian dalam kurun 24-48 jam. Tingkat kematian akibat infeksi virus itu dapat mencapai 80%, sementara penularannya dapat terjadi melalui sekresi belalai, air liur, maupun feses. Karakteristik itu membuat deteksi dini menjadi penting untuk mengantisipasi kasus pada populasi gajah lainnya.
Kasus serupa sebelumnya terjadi pada Intan, anak gajah berusia empat tahun tiga bulan di Conservation Response Unit (CRU) Trumon, Aceh Selatan, pada 2021 silam. Riwayat itu menjadi salah satu konteks penting dalam pengawasan kesehatan anak gajah di wilayah konservasi Aceh, terutama dari serangan EEHV. Kini, BKSDA Provinsi Aceh meningkatkan pemantauan terhadap gajah anakan yang berpotensi rentan.
“Kami segera melakukan uji medis dan deteksi dini terhadap gajah anakan lain yang berusia di bawah 14 tahun. Khususnya kepada gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut,” tutur Ujang Wisnu Barata.
Langkah tersebut menunjukkan kematian Yuna tak berhenti pada penanganan satu satwa, melainkan sebagai peringatan terhadap kerentanan populasi gajah anakan. Kecepatan penurunan kondisi membuat pemantauan rutin perlu beriringan dengan kemampuan mengenali gejala awal secara lebih cepat. Kepastian hasil laboratorium juga menjadi penting untuk menentukan langkah pengendalian berikutnya terhadap ancaman serangan EEHV. (ADR)