AFU.id

Gajah Mati Mendadak, Virus Ganas Ancam Spesies Gajah Aceh

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Serangan virus Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) mengancam anak gajah di Aceh, dengan salah satu korbannya, Yuna, yang berusia di bawah tiga tahun, meninggal mendadak dalam waktu empat jam setelah menunjukkan gejala serius. Meskipun sebelumnya dalam kondisi sehat, Yuna mengalami pembengkakan wajah dan lidah kebiruan, yang menunjukkan perkembangan penyakit yang sangat cepat dan fatal. Kepala BKSDA Provinsi Aceh, Ujang Wisnu Barata, menyatakan pentingnya deteksi dini terhadap anak gajah lainnya guna mencegah penyebaran virus ini, yang dapat memiliki tingkat kematian hingga 80%.

Gajah Mati Mendadak, Virus Ganas Ancam Spesies Gajah Aceh
Yuna, gajah anakan betina berusia di bawah tiga tahun yang mati mendadak dan kuat dugaan akibat serangan EEHV di Provinsi Aceh. (Foto: Kemenhut RI)

Serangan Virus EEHV Dorong Deteksi Dini Anak Gajah

Ujang Wisnu Barata lantas menjelaskan, EEHV merupakan virus herpes yang secara khusus menyerang anak gajah. Yang mana, virusnya dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah atau endothelium. Kerusakan itu menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh menuju organ dalam hingga memicu kondisi fatal.

Ia menyampaikan, serangan virus EEHV dapat berkembang sangat cepat hingga menyebabkan kematian dalam kurun 24-48 jam. Tingkat kematian akibat infeksi virus itu dapat mencapai 80%, sementara penularannya dapat terjadi melalui sekresi belalai, air liur, maupun feses. Karakteristik itu membuat deteksi dini menjadi penting untuk mengantisipasi kasus pada populasi gajah lainnya.

Kasus serupa sebelumnya terjadi pada Intan, anak gajah berusia empat tahun tiga bulan di Conservation Response Unit (CRU) Trumon, Aceh Selatan, pada 2021 silam. Riwayat itu menjadi salah satu konteks penting dalam pengawasan kesehatan anak gajah di wilayah konservasi Aceh, terutama dari serangan EEHV. Kini, BKSDA Provinsi Aceh meningkatkan pemantauan terhadap gajah anakan yang berpotensi rentan.

“Kami segera melakukan uji medis dan deteksi dini terhadap gajah anakan lain yang berusia di bawah 14 tahun. Khususnya kepada gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut,” tutur Ujang Wisnu Barata.

Langkah tersebut menunjukkan kematian Yuna tak berhenti pada penanganan satu satwa, melainkan sebagai peringatan terhadap kerentanan populasi gajah anakan. Kecepatan penurunan kondisi membuat pemantauan rutin perlu beriringan dengan kemampuan mengenali gejala awal secara lebih cepat. Kepastian hasil laboratorium juga menjadi penting untuk menentukan langkah pengendalian berikutnya terhadap ancaman serangan EEHV. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi