JAKARTA, AFU.ID — Seorang pengungsi gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Petrus Liwa (45), meninggal dunia di Puskesmas Mauponggo, Senin (24/8/2026). Warga Desa Kotagana, Kecamatan Mauponggo tersebut sebelumnya mengungsi setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo pada Sabtu (15/8/2026). Petrus meninggal setelah mengalami gangguan kesehatan saat berada di lokasi pengungsian.
Kepala Desa Kotagana Siprianus Peu mengatakan, Petrus memiliki riwayat penyakit asma sebelum gempa terjadi. Kondisinya mulai memburuk selama berada di pengungsian hingga harus mendapatkan perawatan medis. Petrus kemudian dirujuk ke Puskesmas Mauponggo pada Minggu.
“Petrus mengalami serangan asma berat, dan diperparah oleh cuaca dingin selama berada di lokasi pengungsian,” ujar Siprianus saat dihubungi, Senin pagi. Ia mengatakan kondisi Petrus tidak kunjung membaik setelah mendapatkan perawatan. Korban kemudian meninggal dunia di Puskesmas Mauponggo.
Jenazah Petrus telah dijemput oleh pihak keluarga dan dibawa ke rumah duka. Rencananya, korban akan dimakamkan di pemakaman umum Kampung Lina, Dusun Kotagana 3. Keluarga dan warga setempat saat ini melakukan persiapan untuk proses pemakaman.
Sebelumnya, sejumlah pengungsi gempa di Kabupaten Nagekeo dilaporkan mengalami gangguan kesehatan selama berada di lokasi pengungsian. Keluhan yang muncul di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama dialami oleh anak-anak. Kondisi tersebut terjadi selama warga masih bertahan di tenda pengungsian.
Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang sejumlah wilayah di NTT pada Sabtu. Pusat gempa berada di Kabupaten Nagekeo, dengan lokasi sekitar 30 kilometer arah timur laut dan kedalaman 15 kilometer. Guncangan tersebut membuat sejumlah warga memilih mengungsi karena khawatir terjadi gempa susulan. Pasca gempa, pemerintah daerah bersama sejumlah pihak terus melakukan penanganan terhadap warga terdampak. Bantuan logistik dan pelayanan kesehatan diberikan kepada masyarakat yang masih berada di lokasi pengungsian. Pemeriksaan kesehatan dilakukan terhadap warga yang mengalami keluhan.
Tim kesehatan masih melakukan pemantauan terhadap kondisi para pengungsi di sejumlah lokasi. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi warga yang mengalami gangguan kesehatan selama masa pengungsian. Warga dengan riwayat penyakit tertentu juga mendapatkan penanganan sesuai kondisi medisnya.
Selain layanan kesehatan, bantuan kebutuhan dasar juga terus disalurkan kepada masyarakat terdampak gempa. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan logistik dan perlengkapan yang diperlukan selama berada di lokasi pengungsian. Penanganan terhadap warga terdampak masih dilakukan oleh pemerintah dan pihak terkait. Hingga kini, proses pemulihan pascagempa di Kabupaten Nagekeo masih berlangsung. Pemerintah daerah bersama instansi terkait masih melakukan pendataan terhadap dampak gempa serta kebutuhan warga terdampak. (RHU)