Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Harga Tuna Tembus Rp45 Ribu per Kg, Nelayan Tongke-Tongke Sinjai Naik 75 Persen
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Produk tuna Ioin hasil produksi nelayan yang tergabung dalam KNMP Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulsel. (Foto: KKP RI)
JAKARTA, AFU.ID — Nelayan Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), mengalami kenaikan pendapatan rata-rata. Dari yang awalnya sebesar Rp4 juta, kini menjadi Rp7 juta per bulan pascaoperasional Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) berjalan sejak Mei 2026. Perubahan itu sejalan dengan kenaikan harga tuna dari kisaran Rp25.000-Rp30.000 ke Rp45.000 per kilogram (kg). Namun, keberlanjutan manfaat ekonomi itu masih sangat bergantung terhadap konsistensi produksi, akses pasar, dan kemampuan menjaga harga jual hasil tangkapan.
Melansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI), Senin (12/10/2026), KNMP Tongke-Tongke kembali mengirimkan 12 ton tuna loin ke Jakarta. Produk olahan itu akan menjadi bahan baku Unit Pengolahan Ikan (UPI) sebelum dipasarkan untuk ekspor. Pengiriman terbaru menambah catatan sebelumnya sebanyak 65 ton senilai Rp2,54 miliar melalui mitra koperasi.
Direktur Pemberdayaan Usaha Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP RI, Ali Rahmat Iman Santoso pun memberi keterangan pers. Ia menyampaikan, pendapatan nelayan mengalami kenaikan setelah KNMP Tongke-Tongke Sinjai beroperasi. “Dulu berkisar empat juta rupiah per nelayan, sekarang meningkat drastis sampai dengan tujuh juta rupiah,” ungkapnya.
Ali Rahmat Iman Santoso menambahkan, perubahan tersebut rupanya tak hanya berkaitan dengan harga jual ikan segar. Fasilitas KNMP memungkinkan hasil tangkapan diolah menjadi tuna loin, sehingga komoditas yang sebelumnya dijual utuh dapat masuk ke rantai pengolahan dan pemasaran dengan bentuk produk berbeda. Bagian lain seperti tetelan, rahang atau kama, toro, dan daging merah hasil trimming juga berhasil terpasarkan ke Jakarta.
Nelayan Tongke-Tongke Sinjai dan Rantai Nilai Tuna
Keberhasilan nelayan mengirim produk secara berulang menunjukkan aktivitas pemasaran yang mulai terbentuk di Tongke-Tongke Sinjai. Ketua Satuan Tugas (Satgas) Operasionalisasi KNMP, Victor Gustaaf Manoppo menilai konsistensi pengiriman ikan ke luar daerah mencerminkan perkembangan ekosistem bisnis perikanan setempat. “Ini tentu membawa dampak ekonomi yang lebih baik kepada para nelayan sekitar,” tuturnya.
Selain pengolahan dan pemasaran, KNMP yang menjadi unit bisnis Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) tercatat menyerap 39 tenaga kerja lokal dan mempunyai 80 anggota. Fasilitas yang ada mencakup dermaga atau tambatan perahu, pabrik es, gudang beku, tempat pendaratan ikan, kios perbekalan, sentra kuliner, serta kendaraan berpendingin. Pendampingan juga mencakup kelembagaan, kapasitas sumber daya manusia, pembiayaan, dan akses pasar.
Capaian KNMP Tongke-Tongke Sinjai tentu saja tak cukup melihat volume tuna yang terkirim ke Jakarta. Ukuran berikutnya, apakah kenaikan harga maupun pendapatan dapat dipertahankan? apakah pasar terus menyerap produk? dan seberapa besar nilai tambah pengolahan kembali kepada nelayan? Tanpa kepastian itu, kenaikan pendapatan yang tercatat saat ini belum otomatis menjamin kesejahteraan jangka panjang. (ADR)