JAKARTA, AFU.ID — Situasi keamanan di kawasan Teluk semakin memanas setelah kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangkaian serangan terhadap Arab Saudi. Dua bandara di Abha dan Riyadh menjadi sasaran serangan yang menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya. Serangan tersebut juga memunculkan ancaman terhadap penerbangan sipil dan mendorong Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan kepada warganya di Arab Saudi.
Pada saat yang sama, Washington dilaporkan tengah menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran. Perkembangan ini membuat eskalasi konflik Yaman berpotensi terhubung semakin erat dengan konflik AS-Iran yang lebih luas. Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) menyatakan serangan Houthi menghantam Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Selasa (6/10) dan Rabu (7/10).
Serangan di Abha menewaskan dua perempuan yang merupakan warga asing, masing-masing berkewarganegaraan Maroko dan Aljazair. Sebanyak 28 orang lainnya terluka. Sementara itu, serangan terhadap Bandara King Khalid di Riyadh menewaskan seorang warga Sudan dan melukai delapan orang lainnya. Jadi, total korban dalam dua serangan tersebut mencapai tiga orang tewas dan 36 orang terluka. Otoritas Saudi mengatakan sejumlah korban mengalami luka ringan hingga serius dan telah mendapatkan perawatan medis.
Serangan juga menyebabkan kerusakan material. Serangan tersebut terjadi ketika konflik antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi kembali meningkat setelah periode jeda selama beberapa tahun. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk bandara di Riyadh dan Abha.
Bandara Aden juga diserang. Eskalasi tidak hanya terjadi di wilayah Saudi. Bandara Internasional Aden di Yaman, yang berada di wilayah kekuasaan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, juga menjadi sasaran serangan Houthi. Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Yaman menyebut serangan tersebut melibatkan dua rudal balistik dan sebuah pesawat nirawak yang membawa bahan peledak.
Serangan terjadi ketika sebuah pesawat sipil sedang mendekati bandara untuk mendarat. Pesawat lain, penumpang dan staf bandara juga berada di lokasi ketika serangan berlangsung. Menurut Reuters, serangan tersebut tidak dilaporkan menimbulkan korban, tetapi menambah kekhawatiran mengenai keselamatan penerbangan sipil di tengah meningkatnya konflik.
Penerbangan Terancam
Amerika Serikat kemudian mengeluarkan peringatan keamanan bagi warganya di Arab Saudi. Kedutaan Besar AS di Riyadh meminta warga AS meningkatkan kewaspadaan karena adanya ancaman Houthi terhadap bandara dan wilayah udara Saudi. Warga AS diminta mengantisipasi kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara serta gangguan perjalanan. Kedutaan juga meminta warga memeriksa status penerbangan secara langsung kepada maskapai dan bandara sebelum melakukan perjalanan.
Peringatan itu menunjukkan bahwa eskalasi serangan mulai berdampak pada aktivitas penerbangan sipil, bukan hanya sasaran militer. Serangan Houthi terhadap Saudi mendapat respons militer. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap lebih dari 80 posisi Houthi di sejumlah wilayah Yaman, menurut laporan Reuters. Pada Rabu pagi, koalisi Saudi juga mengatakan berhasil mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang ditembakkan Houthi menuju wilayah utara Riyadh.
Eskalasi ini terjadi ketika pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi berusaha merebut kembali wilayah strategis di sekitar pantai Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Selat tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menyerukan respons internasional yang “tegas dan memberikan efek jera” terhadap serangan Houthi. Sekretaris Jenderal GCC Jasem Albudaiwi mengecam serangan terhadap Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid yang menewaskan serta melukai warga sipil. Albudaiwi menyebut serangan terhadap bandara sipil sebagai eskalasi berbahaya karena membahayakan penumpang, pekerja bandara dan masyarakat sipil.
Dia menegaskan negara-negara anggota GCC berdiri bersama Arab Saudi dan mendukung langkah Riyadh untuk menjaga keamanan serta kedaulatannya. Tekanan juga datang dari Sekretariat Jenderal Dewan Menteri Dalam Negeri Arab yang mengecam serangan Houthi terhadap fasilitas sipil di Saudi. PBB juga merespons meningkatnya kekerasan tersebut. Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyerukan seluruh pihak menahan diri dan menghormati kewajiban berdasarkan hukum humaniter internasional. Namun sejauh ini, seruan PBB tersebut belum diikuti langkah konkret untuk menghentikan eskalasi militer di lapangan.
AS Siapkan Opsi Serangan
Di tengah eskalasi Yaman-Saudi, Amerika Serikat juga tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran. The Atlantic melaporkan pemerintahan Presiden Donald Trump telah meminta Pentagon dan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran. Belum ada keputusan final mengenai apakah serangan tersebut akan dilakukan. Pembahasan mengenai cakupan, sasaran dan tujuan operasi juga masih berlangsung.
Menurut laporan tersebut, salah satu pertimbangan pemerintahan Trump adalah menurunkan harga bensin serta menunjukkan perkembangan dalam konflik sebelum pemilu paruh waktu Kongres AS pada 3 November. Trump sebelumnya mengatakan AS harus mengakhiri konflik dengan Iran “dengan cara yang baik atau dengan cara yang tidak baik”. The Atlantic juga melaporkan bahwa opsi serangan setelah pemilu tetap dipertimbangkan. Artinya, belum ada kepastian bahwa penyelesaian konflik akan segera tercapai melalui jalur diplomasi. Rangkaian serangan terbaru menandai meluasnya kembali konflik Yaman setelah jeda panjang.
Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan kelompok Houthi kembali terlibat pertempuran sejak pertengahan tahun ini. Pertempuran kemudian meluas ke wilayah pesisir Laut Merah dan kawasan strategis di sekitar Bab al-Mandab. Reuters melaporkan eskalasi terbaru telah menyebabkan lebih dari 200.000 orang mengungsi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur perdagangan serta energi internasional. Pasar keuangan kawasan Teluk juga mulai merespons. Indeks saham Saudi turun pada Rabu ketika investor menghadapi meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat eskalasi Houthi-Saudi dan ketegangan AS-Iran. (EER)