JAKARTA, AFU.ID — Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke wilayah selatan Iran di tengah gencatan senjata dan pembicaraan damai yang belum mencapai kesepakatan final.
Komando Pusat AS menyebut serangan itu menargetkan situs rudal Iran dan kapal yang diduga berupaya memasang ranjau.
Militer AS menyatakan serangan dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman Iran.
Juru bicara Komando Pusat AS Kapten Tim Hawkins mengatakan militer tetap menggunakan pengekangan selama gencatan senjata berlangsung.
Iran belum memberikan tanggapan resmi atas serangan tersebut.
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqai mengatakan pembicaraan dengan AS memang menunjukkan kemajuan, tetapi kesepakatan belum dekat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kesepakatan masih mungkin dicapai, meski pembahasan dokumen awal diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari.
Rubio juga menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka.
“Selat itu harus terbuka. Akan terbuka dengan satu cara atau lainnya,” kata Rubio, dikutip dari BBC.
Serangan AS disebut terjadi di sekitar Bandar Abbas, kota pelabuhan di selatan Iran yang menjadi lokasi pangkalan angkatan laut Iran dan berada dekat Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi titik penting karena jalur tersebut dilalui sebagian besar pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Rancangan kesepakatan yang dibahas AS dan Iran disebut mencakup perpanjangan gencatan senjata 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pembicaraan lanjutan mengenai program nuklir Iran.
Namun, sejumlah isu utama masih belum selesai, termasuk sanksi terhadap Iran, pencairan dana Iran yang dibekukan, dan tuntutan AS agar Iran membatasi program nuklirnya.
Serangan terbaru ini membuat arah perundingan semakin tidak pasti.
Meski Washington menyebut kesepakatan masih mungkin dicapai, serangan militer di tengah gencatan senjata berisiko memperlebar jarak antara kedua pihak.
Sumber: BBC