WASHINGTON, AFU.ID – Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai langkah masif untuk menghancurkan kemampuan militer Iran sekaligus menghilangkan ancaman pengembangan senjata nuklir.
Dalam pernyataan video berdurasi sekitar delapan menit, Trump bahkan menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil alih pemerintahan Anda” setelah operasi militer selesai.
Serangan itu memicu balasan cepat dari Teheran. Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta menargetkan instalasi militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Baku tembak dilaporkan berlanjut hingga malam hari.
Media pemerintah Iran, mengutip Bulan Sabit Merah, melaporkan sedikitnya 201 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya terluka akibat serangan tersebut. Militer AS menyatakan tengah menyelidiki laporan korban sipil, termasuk insiden di sebuah sekolah perempuan di Iran selatan yang dilaporkan menewaskan lebih dari 80 orang.
Target Strategis Diserang
Militer AS menyebut sejumlah target di Iran meliputi fasilitas komando Garda Revolusi, sistem pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta pangkalan udara militer.
Israel mengungkapkan serangan telah direncanakan bersama Washington selama berbulan-bulan. Salah satu serangan awal dilaporkan terjadi di dekat kompleks kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei di Teheran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan terdapat “tanda-tanda yang semakin kuat” bahwa Khamenei tewas dalam serangan tersebut. Namun sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran menyebut Khamenei dan Presiden Iran masih hidup “sejauh yang ia ketahui”.
Khamenei, 86 tahun, memimpin Iran sejak 1989 dan memegang kekuasaan tertinggi dalam sistem politik negara tersebut.
Iran Balas Serangan
Sekitar 12 jam setelah serangan dimulai, militer AS melaporkan tidak ada korban jiwa dari pihaknya dan hanya kerusakan minimal di pangkalan-pangkalan AS, meski terjadi “ratusan serangan rudal dan drone Iran.”
Militer Israel menyatakan Iran menembakkan puluhan rudal, sebagian besar berhasil dicegat. Layanan darurat Israel mencatat 89 orang mengalami luka ringan.
Sejumlah negara Teluk juga melaporkan dampak serangan. Bahrain menyebut markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS menjadi sasaran. Kuwait melaporkan serangan drone di bandara internasional utama. Ledakan juga terdengar di Qatar dan Yordania mengaku telah menangani puluhan drone serta rudal balistik.
Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman turut menyatakan akan kembali menyerang jalur pelayaran Laut Merah dan Israel.
Ketegangan Nuklir dan Tekanan Militer
Serangan terjadi dua hari setelah putaran terbaru perundingan nuklir AS–Iran yang disebut tidak membuahkan hasil. Pemerintahan Trump sebelumnya menekan Teheran agar menyepakati pembatasan program nuklirnya.
Washington menilai Iran kembali membangun program nuklirnya, sementara Teheran bersikeras bahwa program tersebut untuk tujuan damai.
Sejak awal tahun, AS telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan. Kapal induk USS Abraham Lincoln bersama kapal perusak rudal tiba pada Januari. Menyusul kemudian kapal induk terbesar dunia, USS Gerald R. Ford, beserta armadanya menuju Timur Tengah. Penambahan armada ini membawa lebih dari 10.000 personel militer AS ke kawasan.
Dampak Global
Konflik ini mengganggu penerbangan komersial di Timur Tengah. Sejumlah negara menutup wilayah udaranya, termasuk Israel, Qatar, Suriah, Iran, Irak, Kuwait, dan Bahrain. Bandara Muscat di Oman ditutup, sementara pembatasan penerbangan diberlakukan di Uni Emirat Arab.
Maskapai-maskapai besar di kawasan membatalkan ratusan penerbangan, membuat puluhan ribu penumpang terlantar atau dialihkan ke bandara lain di Eropa.
Selain itu, pasar energi global berpotensi terdampak jika Iran mengganggu keamanan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sepertiga ekspor minyak dunia melalui laut pada 2025.
Eskalasi terbaru ini menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah, dengan risiko konflik yang lebih luas jika kedua pihak terus saling melancarkan serangan. (bs)