JAKARTA, AFU.ID - Pengamat politik Ray Rangkuti mengkritik langkah reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai perombakan tersebut tidak membawa perubahan signifikan karena masih diisi oleh figur lama.
“Kalau orang Mandailing bilang, itu-itu saja. Tidak ada yang benar-benar baru,” kata Ray dalam diskusi publik yang disiarkan, Selasa, 28 April 2026.
Ray menyebut reshuffle kali ini lebih tepat disebut sebagai reposisi jabatan, bukan penyegaran kabinet. Ia menilai sebagian besar pejabat yang dilantik berasal dari lingkaran lama, bahkan ada yang sebelumnya pernah diberhentikan lalu kembali masuk ke dalam struktur pemerintahan.
Dalam reshuffle tersebut, Presiden melantik sejumlah pejabat, di antaranya Jumhur Hidayat, Muhammad Qodari, serta Dudung Abdurachman. Selain itu, Hasan Nasbi dan Abdul Qadir Karding juga turut dilantik.
Menurut Ray, komposisi tersebut menunjukkan pendekatan politik harmoni yang diambil Presiden, yakni merangkul berbagai pihak tanpa menghadirkan perubahan mendasar dalam struktur kekuasaan.
Ia juga menyoroti penunjukan figur di bidang komunikasi seperti Hasan Nasbi dan Muhammad Qodari yang dinilai memiliki karakter ofensif. Ray memperkirakan pola komunikasi pemerintah ke depan akan lebih agresif dalam merespons kritik publik.
“Dua figur ini bukan tipe defensif. Kemungkinan komunikasi pemerintah akan lebih ofensif,” ujarnya.
Namun, Ray meragukan efektivitas reshuffle ini dalam meningkatkan kinerja pemerintahan maupun menarik kepercayaan investor. Ia menilai komposisi kabinet saat ini belum sepenuhnya berbasis pada kesesuaian kompetensi dengan jabatan.
“Sulit melihat ini untuk meningkatkan efektivitas atau menarik kepercayaan ekonomi,” katanya.
Ia juga menyoroti meningkatnya peran figur berlatar belakang militer dalam pemerintahan, termasuk penunjukan Dudung Abdurachman. Menurutnya, hal itu mencerminkan preferensi Presiden terhadap lingkaran yang dianggap memberi rasa aman secara politik.
Hingga saat ini, reshuffle kabinet Prabowo telah dilakukan beberapa kali dalam kurun waktu relatif singkat. Namun, Ray menilai belum ada perubahan signifikan yang dirasakan publik dari perombakan tersebut.
Ia menegaskan, tantangan utama pemerintah saat ini bukan sekadar pergantian figur, melainkan kemampuan menghadirkan kebijakan yang berdampak nyata, terutama di tengah tekanan ekonomi dan dinamika global. (*)