AFU.id

PSI Tuding MK Pertontonkan Atraksi Politik soal Ijazah Gibran: Jangan Bersembunyi di Balik Jubah

Bagikan:

Penulis: Fadhlan RobbaniReporter: Fadhlan Robbani

Ringkasan Berita

Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menuduh Mahkamah Konstitusi (MK) menunjukkan atraksi politik dalam menangani kasus syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, meskipun permohonan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima. Ali mendesak hakim MK, Arsul Sani, untuk menjelaskan keterlibatannya dalam penyusunan Peraturan KPU yang menjadi sorotan, serta menilai bahwa langkah MK menciptakan kegaduhan politik yang tidak memiliki kekuatan mengikat. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat Presiden Jokowi yang menyebut polemik ijazah Gibran sebagai bagian dari operasi politik yang bertujuan melemahkan posisinya.

PSI Tuding MK Pertontonkan Atraksi Politik soal Ijazah Gibran: Jangan Bersembunyi di Balik Jubah
Dokumen Gibran yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi. Foto: IST

PSI Desak Arsul Sani Buka Suara

Ali secara khusus menyoroti hakim MK Arsul Sani. Ia meminta Arsul menjelaskan keterlibatannya dalam penyusunan PKPU yang berkaitan dengan persyaratan pendidikan calon presiden dan wakil presiden. Ali merujuk pada keterangan Ketua KPU sebelumnya yang, menurut dia, menyebut Arsul menjadi bagian dari panitia kerja (panja) penyusunan PKPU tersebut.

“Kita minta Arsul Sani untuk bicara. Menurut keterangan Ketua KPU kemarin, dia menjadi bagian dari panja penyusunan PKPU itu. Jangan bersembunyi di balik jubahnya, seakan-akan menjadi orang suci di Mahkamah Konstitusi,” tegasnya. Ali juga menuding prosedur pemeriksaan perkara tersebut melompati tahapan yang lazim. Ia menilai langkah MK itu menimbulkan pertanyaan mengenai motif di balik pertimbangan yang disampaikan dalam putusan.

“Jadi atraksi politik yang memang sengaja dipertontonkan oleh Mahkamah Konstitusi dengan tujuan politik,” pungkas Ali. Sebelumnya, Jokowi menuding polemik ijazah dan wacana pemakzulan Gibran merupakan bagian dari operasi politik yang membuat isu tersebut terus berkembang. “Ya kan sudah saya sampaikan sejak awal, ini ada operasi politik kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi. Jadi menjadi ramai sekali,” kata Jokowi saat ditemui pada Jumat (16/10/2026). (FAD)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi