JAKARTA, AFU.ID - Riset kolaboratif dari tujuh individu yang mewakili tujuh organisasi mengungkapkan adanya "perang" narasi terkait isu transisi energi, khususnya terkait hilirisasi nikel di media sosial. Ada perbedaan mencolok antara narasi yang berkembang di platform Tiktok dan platform X.
Peneliti dan dosen senior dari Monash University Indonesia Ika Idris mengatakan, ada perbedaan antara narasi yang berkembang di platform X dan platform Tiktok. Platform X lebih cenderung menyuarakan narasi soal kerusakan lingkungan dan dampak buruk yang diakibatkan oleh industri nikel, sementara platfom Tiktok didominasi oleh narasi tentang potensi manfaat ekonomi dari industri nikel.
Outreach and Advocacy Coordinator Yayasan Indonesia Cerah, Dzatmiati Sari mengatakan, narasi transisi energi yang diangkat di platform media sosial, terutama Tiktok, cenderung mengaburkan kompleksitas isu karena cenderung manipulatif. "Konten-konten (yang beredar di Tiktok) berusaha meningkatkan public awareness, sentimen positif pemerintah, dan amplifikasi narasi baik terhadap program pemerintah,” ungkapnya, dalam acara diseminasi hari penelitian tersebut di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Dalam diskusi bertajuk “Mengulik Operasi Informasi dalam Isu Transisi Energi” itu, Dzatmiati, mengungkapkan, konten-konten ini disebarluaskan oleh perusahaan-perusahaan tambang— khususnya tambang nikel—, para pekerja tambang, akun pejabat pemerintah pusat maupun lokal, influencers, dan beberapa akun AI.
Dalam penelitian ini, tim kolaboratif mencoba menelusuri narasi transisi energi yang beredar di platform media sosial, yakni X dan Tiktok, dalam durasi setahun terakhir. Penelusuran spesifik dilakukan untuk narasi hilirisasi nikel dengan menggunakan sejumlah kata kunci dan tagar, diantaranya #nikelberkelanjutan, #nikel bersih, #hilirisasinikel, #anaktambang, dan #nikelchina.
Hasilnya diketahui, platform Tiktok memang lebih banyak digunakan untuk membangun narasi pro pemerintah. Adakah ini mengindikasikan adanya sebuah operasi informasi? Ika Idris mengatakan, untuk menyimpulkan seberapa jauh sebuah narasi manipulatif bisa ditengarai sebagai operasi informasi membutuhkan kehati-hatian dan perlu waktu penelitian yang lebih panjang.
Menurutnya, analisis yang cermat terhadap operasi pengaruh membutuhkan waktu. Tetapi data digital dapat menunjukkan adanya koordinasi, amplifikasi, pengulangan, waktu pelaksanaan, tagar yang sama, perilaku mirip bot, atau konvergensi narasi, tetapi hal-hal ini biasanya hanya indikator, bukan bukti pasti adanya sebuah “operasi".
“Untuk membuktikan adanya suatu operasi, biasanya diperlukan triangulasi: pemetaan aktor, jejak pendanaan, hubungan organisasi, wawancara, dokumen bocor, pengamatan lapangan, atau bukti di tingkat platform,” jelas Ika.
Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Bahlil Lahadalia memang saat ini tengah getol-getolnya mengkampanyekan hilirisasi nikel sebagai sebuah proses transisi energi. Dalam laporannya, Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat gravitasi baru energi hijau global.
"Indonesia tidak lagi hanya bicara potensi, tapi realisasi eksekusi. Tahun 2026 adalah titik balik di mana investasi hijau, khususnya di sektor EBT dan hilirisasi mineral kritis seperti nikel dan bauksit, akan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah republik ini," ujarnya, beberapa waktu lalu.
Bahlil mempromosikan, hilirisasi nikel sebagai proses transformasi menuju industrialisasi hijau dan pemanfaatan potensi energi terbarukan. Dalam konteks ini, pemerintah menilai, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar, Indonesia memaksa hilirisasi untuk menguasai rantai pasok baterai global.
Selain nikel, Bahlil menekankan bahwa hilirisasi bauksit akan menjadi prioritas agresif untuk mendukung industri aluminium dalam negeri yang dibutuhkan untuk komponen infrastruktur EBT seperti panel surya dan kincir angin.
Hal senada juga dikatakan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dave Akbarshah Fikarno Laksono. Dia mengatakan, hilirisasi nikel sebagai kunci energi hijau dunia. Menurut Dave, dunia berada di persimpangan menuju dekarbonisasi global. Visi energi masa depan kini bergeser ke Indonesia.
Ia menyebut Indonesia tidak lagi menjadi penonton dalam persaingan global. Transformasi sektor energi dinilai menempatkan Indonesia sebagai pusat gravitasi baru. “Indonesia muncul bukan lagi sebagai penonton, melainkan pusat gravitasi baru. Di bawah kepemimpinan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Indonesia melakukan lompatan kuantum menuju raja baterai kendaraan listrik dunia,” kata Dave.
Ia menegaskan transisi energi memiliki dua tujuan besar yang berjalan beriringan. Tujuan itu mencakup kelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi nasional. “Transisi energi adalah instrumen mencapai dua tujuan besar sekaligus. Menjaga kelestarian bumi dan memperkuat fondasi ekonomi menuju pertumbuhan delapan persen,” kata Dave.
Tetapi benarkah kenyataannya seperti demikian? Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Shafa Kalila Aryanti melihat, narasi hilirisasi nikel selama ini diposisikan sebagai bagian dari transisi energi global. Namun, dalam kenyataannya, posisi Indonesia dalam rantai pasok industri hijau dinilai masih sangat bergantung pada China, baik sebagai tujuan ekspor utama maupun pengendali industri smelter nasional.
Sepanjang 2020-2024, sekitar 70,25% ekspor nikel Indonesia ditujukan ke China, sementara mayoritas produk yang diekspor masih berupa nikel kelas dua seperti feronikel dan nickel pig iron yang lebih banyak digunakan untuk industri baja tahan karat, bukan langsung untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan China disebut telah menguasai sekitar 75% kapasitas smelting nasional dan membangun ekosistem industri nikel yang terintegrasi dari hulu hingga pengolahan bahan baku baterai di Indonesia.
Shafa juga menyoroti praktik trade misinvoicing di sektor nikel, khususnya export underinvoicing yang menyebabkan nilai ekspor tercatat lebih rendah dari transaksi sebenarnya. “Ketika nilai perdagangan tidak dilaporkan secara akurat, potensi penerimaan negara dari pajak, royalti, dan bea ikut berkurang. Dampaknya, kapasitas negara untuk melakukan pengawasan industri dan mitigasi dampak lingkungan juga semakin melemah,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan bahwa ekspansi industri nikel tidak hanya memunculkan ketergantungan ekonomi, tetapi juga memperbesar risiko sosial dan lingkungan yang pada akhirnya ditanggung masyarakat di sekitar kawasan industri.
Memang pada akhirnya menjadi ironi, baterai berbahan baku nikel yang dinilai "hijau" sebenarnya diproduksi dari bahan baku yang sama sekali sulit disebut ramah lingkungan. Pertambangan nikel adalah sumber daya tak terbarukan. Laporan menunjukkan bahwa setelah 8 tahun, keuntungan ekonomi hilirisasi berpotensi menurun drastis karena degradasi lingkungan yang memengaruhi sektor lain seperti pertanian dan perikanan.
Penebangan hutan yang meluas untuk tambang dan smelter telah menyebabkan peningkatan bencana banjir, contohnya di Bahodopi, Morowali. Reklamasi dan aktivitas smelter merusak ekosistem laut, terumbu karang, dan lamun, yang merupakan mata pencaharian utama warga pesisir. Kemudian, limbah hasil tambang dan smelter mengandung logam berat (nikel, kobalt, besi) yang mencemari air dan tanah, mengancam akses air bersih penduduk. Ditambah dengan penggunaan PLTU batu bara yang masif untuk menyuplai energi smelter nikel membatalkan klaim "nikel hijau" dan memperparah krisis iklim
Karena itu menurut Ika, jika memang terjadi operasi informasi untuk memoles isu "hilirisasi nikel" sebagai transisi energi hijau, ia menekankan, operasi informasi jarang berhasil jika hanya melalui amplifikasi digital. Inilah mengapa narasi asing dan domestik sering berjejalin. “Aktor asing mungkin memperkuat ketegangan domestik yang sudah ada, sementara aktor domestik mungkin secara selektif mengadopsi narasi eksternal untuk melegitimasi agenda lokal,” jelas Ika.
MAR