JAKARTA, AFU.ID — Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, pada Senin (14/9/2026). Langkah penunjukan ekonom senior alumni Universitas Indonesia ini menandai berlanjutnya kepemimpinan berorientasi teknokratis-pragmatis di Kementerian Keuangan—sebuah tradisi pengelolaan fiskal modern yang mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential), rasionalitas data empiris, dan stabilitas makroekonomi di tengah badai gejolak global.
Setelah mengabdi lama di dunia akademik sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dan memimpin Lembaga Demografi FEB UI, kariernya di jajaran birokrasi terus melesat. Dimulai dari kepemimpinannya di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) pada 2016, dilanjutkan posisi Wakil Menteri Keuangan mendampingi Sri Mulyani Indrawati pada periode 2019–2024, hingga terus dipercaya pada masa transisi Kabinet Merah Putih.
Latar belakang akademik dengan gelar Master of Science dari Cornell University dan Doctor of Philosophy dari University of Illinois Urbana-Champaign memperkokoh pendekatannya yang berbasis bukti (evidence-based policy) dalam menakhodai kebijakan publik, kemiskinan, hingga desentralisasi fiskal. Di bawah kendalinya, fondasi utama perekonomian Indonesia diproyeksikan akan bertumpu pada disiplin fiskal dan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Bagi lulusan UI tersebut, APBN harus diposisikan sebagai instrumen peredam kejutan (shock absorber) yang sangat fleksibel namun tetap dijaga batas keamanannya demi memastikan kestabilan inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.
Dalam berbagai kesempatan dialog ekonomi, ia sering menekankan betapa pentingnya mempertahankan pencapaian indikator fundamental yang sering membuat iri banyak negara lain di dunia. "Itu banyak negara lain iri bisa punya pertumbuhan di atas 5 persen, bisa punya inflasi di kaliber 3 persen. Lalu kemudian surplus dagang kita sudah 70 bulan berturut-turut, 5 tahun lebih surplus dagang, cadangan devisa kita memadai, manufaktur kita masih ekspansif," ujar Suahasil Nazara.
Namun, mengarungi dinamika ekonomi global tak cukup hanya dengan berpuas diri pada stabilitas sesaat. Komitmen terbesar Suahasil dalam memimpin Kementerian Keuangan adalah mendorong agenda pembangunan jangka menengah agar Indonesia mampu memutus belenggu jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Ia menegaskan bahwa Indonesia harus konsisten menjalankan lima pillar strategi pembangunan utama yang diterjemahkan secara berkelanjutan melalui instrumen fiskal dari tahun ke tahun.
Strategi tersebut meliputi peningkatan produktivitas sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan dan kesehatan, akselerasi infrastruktur serta ketahanan energi dan pangan, reformasi kelembagaan birokrasi, penajaman kebijakan makro yang adaptif, hingga penjagaan terhadap stabilitas politik dan keamanan nasional. Bagi sang Menteri Keuangan baru, kelima agenda prioritas ini hanya dapat memberikan dampak optimal jika dikelola di atas landasan kepercayaan publik dan kelembagaan yang kuat.
"Konsisten aja pada lima ini, kalau buat saya. Nah, tentu konsistensi ini kita terjemahkan di setiap periode pemerintahan, dan oleh setiap periode pemerintahan diterjemahkan dalam APBN dari tahun ke tahun. Kredibilitas menjadi sangat penting. APBN yang kredibel, Danantara yang kredibel, dan tentu kebijakan moneter yang kredibel, yang dipercaya oleh masyarakat, dipercaya oleh dunia usaha. Ini menjadi modal yang sangat penting, ini menjadi imperatif dari semua yang mengelola kebijakan fiskal, moneter, maupun kebijakan investasi Republik Indonesia," tegasnya. (MAR)