JAKARTA, AFU.ID – Program pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mulai menghadapi persoalan pada tahap implementasi. Sejumlah bangunan koperasi yang berdiri di lokasi jauh dari pusat permukiman atau berada di kawasan nonpermukiman memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian lokasi dengan kebutuhan masyarakat desa.
Sorotan muncul setelah sejumlah video bangunan Kopdes Merah Putih beredar di media sosial. Bangunan di kawasan Ngarai Sianok, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, serta Stone Garden, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menjadi contoh lokasi yang diperdebatkan karena dinilai tidak berada di pusat aktivitas warga.
Di Nagari Sianok, Kabupaten Agam, bangunan koperasi berada di kawasan yang berdekatan dengan objek wisata Ngarai Sianok. Sementara di Desa Gunungmasigit, Bandung Barat, bangunan koperasi berdiri di kawasan wisata Stone Garden dengan latar perbukitan karst.
Polemik tersebut muncul di tengah target pemerintah membangun sekitar 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia. Program ini dirancang sebagai pusat kegiatan ekonomi desa, mulai dari distribusi kebutuhan pokok hingga penyerapan hasil produksi masyarakat.
Namun, pembangunan infrastruktur dalam jumlah besar membuat persoalan pemilihan lokasi menjadi faktor penting. Lokasi koperasi akan menentukan tingkat akses masyarakat, biaya operasional, hingga kemampuan koperasi menjalankan fungsi ekonominya.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyatakan pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap lokasi yang dinilai tidak sesuai. Menurutnya, jumlah lokasi yang mendapat sorotan masih terbatas dibandingkan total pembangunan yang berjalan. Meski demikian, pemerintah belum merinci standar evaluasi lokasi maupun indikator yang digunakan untuk menentukan sebuah titik pembangunan dianggap ideal.
Dosen Hukum Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada, Richo Andi Wibowo, sebelumnya mengingatkan agar pembangunan Kopdes tidak hanya mengejar jumlah fisik, tetapi juga memperhatikan karakter ekonomi masing-masing wilayah. Menurutnya, kebutuhan setiap desa berbeda sehingga model pembangunan koperasi tidak dapat sepenuhnya diseragamkan.
Persoalan lokasi menjadi salah satu ujian awal program Kopdes Merah Putih. Selain pembangunan fisik, keberhasilan koperasi juga akan bergantung pada kemampuan menarik pengguna, membangun jaringan usaha, dan menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar. (RHU)