JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah Indonesia mengupayakan diversifikasi sumber energi di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga minyak dunia yang sudah menyentuh $91–$93 per barrel per 17 April 2026.
Proses penjajakan pembelian minyak mentah dari Rusia semakin intensif sejak awal April 2026, ketika Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menyatakan kesiapan Moskow untuk memasok minyak dan gas jika diperlukan oleh Pertamina.
Puncak diplomasi terjadi pada 13 April 2026 ketika Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Vladimir Putin di Moskow.
Dua hari kemudian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melakukan negosiasi langsung dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev.
Hasilnya, Indonesia berhasil mengamankan tambahan pasokan minyak mentah dan LPG melalui skema Government to Government (G2G) maupun Business to Business (B2B).
“Alhamdulillah, dari kesepakatan ini kita mendapat hasil yang cukup baik. Kita bisa menambah cadangan crude, dan juga akan mendapatkan LPG,” ujar Bahlil Lahadalia setelah melaporkan hasil negosiasi kepada Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, pada (16/4/2026).
Pertamina menyambut positif rencana ini. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa kilang-kilang milik Pertamina sudah modern dan fleksibel untuk mengolah minyak mentah asal Rusia.
“Untuk crude dari Rusia, Refinery Unit/kilang yang dimiliki Pertamina mampu dan dapat mengolahnya untuk menjadi produk olahan dari crude tersebut,” kata Roberth.
Spekulasi Harga Murah Minyak Rusia
Pernyataan Bahlil itu menimbulkan spekulasi harga minyak dari Rusia bakal lebih murah.
Pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai Indonesia bisa memperoleh minyak mentah dengan harga US$ 59 per barel dari Rusia.
Harga tersebut lebih murah bila dibandingkan dengan harga minyak mentah Brent yang ada di kisaran US$ 100 setelah meletus perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
“Andaikan dengan harga normal pun, yang sekitar US$ 60–70 per barel, minyak Rusia tetap lebih murah, yaitu sekitar US$ 59 per barel,” kata Yayan, Selasa (14/4).
Namun, Duta Besar Sergei Tolchenov memberikan klarifikasi tegas pada (16/4) mengenai isu harga. Ia menegaskan bahwa Rusia tidak memberikan diskon khusus kepada Indonesia dan menolak konsep “harga teman”.
“Teman-teman, ini adalah ekonomi pasar, tidak ada teman dalam bisnis,” tegas Sergei Tolchenov.
Dubes Rusia itu juga mengutip pernyataan Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak yang menangani energi, bahwa masa diskon besar-besaran sudah berlalu dan harga kini bisa mengikuti mekanisme pasar internasional, bahkan berpotensi lebih tinggi (harga premium) tergantung kondisi.
Hingga saat ini, proses negosiasi masih berlanjut. Belum ada pengumuman resmi mengenai volume impor pasti, harga akhir, maupun jadwal pengiriman pertama.
Pemerintah Indonesia menekankan bahwa kebijakan ini murni untuk kepentingan nasional, memperkuat ketahanan energi, dan menjalankan politik luar negeri bebas aktif tanpa mengganggu hubungan dengan mitra lain.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai langkah impor minyak Rusia tetap menjadi kesempatan strategis meski tanpa diskon khusus.
“Minyak mentahnya Rusia itu lebih cocok dengan kilang Pertamina. Daripada beli di Singapura, makanya beli langsung saja dari Rusia,” ujar Fahmy Radhi. (EER)