JAKARTA, AFU.ID — Catatan sejarah pertahanan negara menyisakan kisah kelam mengenai gugurnya para perwira terbaik angkatan darat, anggota kepolisian, hingga kalangan sipil pada 1 Oktober 1965 dini hari. Rentetan penembakan brutal secara serentak di kawasan Menteng dan Kebayoran Baru tersebut menargetkan para pejabat yang memegang posisi strategis di birokrasi militer. Seluruh korban di wilayah Jakarta dieksekusi secara keji sebelum jasad mereka dimasukkan ke dalam sumur tua sedalam 12 meter di tengah perkebunan karet Lubang Buaya Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahi gelar Pahlawan Revolusi kepada para korban atas pengorbanan mereka mempertahankan ideologi Pancasila.
Berikut adalah biodata resmi lengkap dan fakta sejarah riil mengenai rekam jejak sebelas pahlawan serta korban sipil dalam peristiwa tersebut:
TNI (Anumerta) Ahmad Yani: Lahir di Purworejo pada 19 Juni 1922, ia merupakan Menteri/Panglima Angkatan Darat dengan spesialisasi pendidikan komando tinggi di Command and General Staff College, Fort Leavenworth, Amerika Serikat. Tokoh bertinggi badan 171 sentimeter ini menguasai taktik infanteri modern pascapenumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera Barat. Ia ditembak mati di lorong rumahnya di Jalan Lembang Nomor 6, Menteng, setelah menolak ikut secara paksa dan menampar Sersan Raswad selaku prajurit pembelot.
Letnan Jenderal TNI (Anumerta) R. Soeprapto: Lahir di Purwokerto pada 20 Juni 1920, ia menjabat sebagai Deputi II Men/Pangad Bidang Administrasi dan merupakan lulusan sekolah militer Kerajaan Belanda Koninklijke Militaire Academie (KMA) Bandung. Tokoh bertangan kanan yang tangguh ini pernah bertugas sebagai ajudan pribadi Panglima Besar Jenderal Soedirman pada masa perang kemerdekaan. Korban diculik hidup-hidup dari rumahnya di Jalan Besuki Nomor 19 saat mengenakan sarung akibat sedang menderita sakit gigi.
Letnan Jenderal TNI (Anumerta) M.T. Haryono: Lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924, ia menduduki posisi strategis sebagai Deputi III Men/Pangad Bidang Perencanaan dan Pembinaan . Mantan mahasiswa kedokteran era Jepang ini dikenal sangat genius karena fasih menguasai bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman secara aktif. Ia gugur di dalam kamarnya di Jalan Prambanan Nomor 8 akibat ditembak mati setelah berupaya merebut senjata laras panjang milik pelaku dalam kondisi gelap gulita.
Letnan Jenderal TNI (Anumerta) S. Parman: Lahir di Wonosobo pada 4 Agustus 1918, ia menjabat sebagai Asisten I Men/Pangad Bidang Intelijen dan merupakan lulusan Military Police School, Amerika Serikat. Tokoh ahli spionase yang bertugas menangkal infiltrasi rahasia ini fasih berbahasa Jepang karena mantan penerjemah di dinas intelijen Kempeitai. Korban dibawa paksa dari kediamannya di Jalan Syamsu Rizal Nomor 32 pada pukul 04.30 WIB menggunakan dokumen panggilan kepresidenan palsu.
Mayor Jenderal TNI (Anumerta) D.I. Panjaitan: Lahir di Balige pada 9 Juni 1925, ia menjabat sebagai Asisten IV Men/Pangad Bidang Logistik dan merupakan salah satu pembentuk awal institusi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Sumatera. Tokoh berpostur tegap setinggi 178 sentimeter ini memiliki rekam jejak diplomatik yang kuat selaku mantan Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ia gugur seketika setelah ditembak pada bagian kepala saat sedang berdoa dengan pakaian dinas upacara lengkap di halaman rumahnya di Jalan Hasanuddin Nomor 53.
Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo: Lahir di Kebumen pada 28 Agustus 1922, ia merupakan Inspektur Kehakiman atau Oditur Jenderal Angkatan Darat dengan keahlian khusus di bidang hukum militer. Perwira lulusan Sekolah Pegawai Tinggi Pembantu Pamong Praja ini pernah ditugaskan sebagai Atase Militer RI di London, Inggris . Korban diculik secara paksa dari kediamannya di Jalan Sumenep Nomor 6 setelah seluruh akses jalan di sekitar rumahnya ditutup oleh barikade pasukan Cakrabirawa.
Kapten Czi (Anumerta) Pierre Andreas Tendean: Lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939, ajudan setia Jenderal A.H. Nasution ini merupakan perwira muda lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) Bandung Korps Zeni. Tokoh bertinggi 180 sentimeter keturunan Minahasa-Prancis ini pernah sukses memimpin operasi intelijen menyusup ke garis pantai Malaysia selama masa konfrontasi Dwikora. Pierre menjadi korban salah sasaran karena berani pasang badan mengaku sebagai Nasution di tengah kegelapan demi melindungi atasannya.
Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Katamso Dharmokusumo: Lahir di Sragen pada 5 Februari 1923, ia menjabat sebagai Komandan Komando Resor Militer (Danrem) 072/Pamungkas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mantan komandan batalyon PETA di Magelang ini memiliki rekam jejak tempur yang tinggi saat memimpin penumpasan pemberontakan bersenjata PRRI di Sumatera. Korban diculik secara sepihak oleh anak buahnya sendiri yang berkhianat sebelum akhirnya dihantam menggunakan mortar di kawasan Kentungan.
Kolonel Infanteri (Anumerta) Sugiyono Mangunwiyoto: Lahir di Gunungkidul pada 12 Agustus 1926, ia menjabat sebagai Kepala Staf Korem (Kasrem) 072/Pamungkas Yogyakarta. Perwira infanteri bertangan kanan ini merupakan tokoh taktis lapangan yang terlibat aktif memimpin pasukan saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Ia ditangkap oleh kelompok Dewan Revolusi setibanya di stasiun kereta pascadinas luar kota dan gugur bersama Brigjen Katamso di sumur Kentungan.
AIP II (Anumerta) Karel Satsuit Tubun: Lahir di Tual, Maluku Tenggara pada 14 Oktober 1927, ia merupakan anggota Kesatuan Brigade Mobil (Brimob) Polri bertinggi badan 170 sentimeter. Korban bertugas resmi sebagai pengawal bersenjata di rumah kediaman Wakil Perdana Menteri II Dr. Johannes Leimena. Ia gugur akibat terjangan peluru setelah melepaskan tembakan perlawanan secara berani saat mendengar kegaduhan penculikan di rumah Jenderal Nasution yang bertetangga langsung.
Ade Irma Suryani Nasution: Lahir di Jakarta pada 19 Februari 1960, putri bungsu Jenderal Besar A.H. Nasution ini menjadi korban dari kalangan sipil saat masih berusia lima tahun. Bocah berambut ikal ini tertembak pada bagian punggung saat menjadi tameng pelindung fisik bagi ayahnya yang tengah berupaya memanjat pagar samping. Korban sempat dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto untuk operasi darurat sebelum akhirnya dinyatakan wafat pada 6 Oktober 1965.
Monumen Pancasila Sakti di kawasan Lubang Buaya kini menjadi pusat edukasi sejarah untuk mengenang seluruh korban pembunuhan massal tersebut. Proses rekonstruksi dan evakuasi jasad para perwira pada masa itu dipimpin langsung oleh satuan kapal selam KKO Angkatan Laut. Peringatan upacara nasional secara terpusat terus digelar oleh lembaga pemerintah setiap tanggal 1 Oktober demi meneguhkan kembali komitmen kebangsaan [travel]. Publik berharap nilai-nilai pengorbanan para pahlawan ini dapat terus diinternalisasikan oleh generasi muda dalam menjaga kedaulatan negara. (RHU)