JAKARTA, AFU.ID — Kabupaten Yahukimo menjadi salah satu wilayah yang paling diwaspadai menyusul temuan BMKG Wilayah V Jayapura soal tingginya sebaran titik panas berkategori kepercayaan tinggi di daerah tersebut. Temuan ini merupakan bagian dari hasil pemantauan selama periode 25-26 Agustus 2026, yang secara keseluruhan mencatat 1.689 titik panas di seluruh Tanah Papua.
Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Sri Dewi memaparkan titik-titik panas tersebut tersebar merata di enam provinsi. Enam Provinsi tersebut meliputi Papua, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya. Tiga daerah dengan jumlah titik panas terbanyak masing-masing adalah Merauke dengan 391 titik, Mappi 275 titik, dan Fak-Fak 159 titik.
Dari sisi tingkat keyakinan data, sebagian besar temuan atau sekitar 1.485 titik berada pada kategori kepercayaan sedang, sedangkan sisanya terbagi antara kategori tinggi sebanyak 9,6 persen dan kategori rendah 2,5 persen. Fenomena ini disebut tidak bisa dilepaskan dari periode puncak musim kemarau yang tengah berlangsung serta indikasi munculnya El Nino.
Kombinasi keduanya dinilai berpotensi memperbesar risiko bencana, mengingat dampak El Nino umumnya memicu penurunan curah hujan, kekeringan, sampai kebakaran hutan dan lahan yang meluas. Selain berdampak pada lingkungan, kondisi ini juga berisiko menurunkan kualitas udara akibat kabut asap, memicu gangguan kesehatan seperti ISPA, mengganggu jarak pandang untuk transportasi darat maupun udara, serta merusak lahan pertanian dan perkebunan warga.
Menyikapi risiko tersebut, BMKG mendorong pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat kesiapan kelembagaan dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penguatan ini mencakup pembaruan rencana kontingensi, kesiapan personel dan peralatan penanggulangan, sistem peringatan dini yang mengintegrasikan data titik panas, dan kondisi cuaca, serta perkembangan El Nino.
Di sisi pencegahan lapangan, BMKG meminta intensitas patroli gabungan ditingkatkan, khususnya untuk mengawasi aktivitas pembukaan lahan yang berisiko memicu kebakaran. Edukasi kepada masyarakat di kawasan rawan karhutla dinilai perlu digencarkan, seiring imbauan agar warga tidak membakar lahan saat membuka kebun atau membersihkan area pertanian. Kewaspadaan ekstra diminta khusus untuk wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi seperti Yahukimo.
Aspek logistik air turut menjadi perhatian BMKG, mulai dari memastikan ketersediaan sumber air dan peralatan pemadaman dini. “Pantau informasi cuaca, iklim, perkembangan fenomena El Niño, dan informasi titik api dari BMKG sebagai dasar langkah antisipasi dan mitigasi dan melaporkan apabila ditemukan titik api, asap, atau indikasi kebakaran kepada instansi yang berwenang agar penanganan dapat dilakukan secara cepat sebelum kebakaran meluas," pungkas Sri Dewi. (NAD)