JAKARTA, AFU.ID — Nada pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik dengan Iran terus bergeser dalam hitungan hari.
Dari semula meminta dukungan sekutu, ia kemudian berbalik menyatakan bisa bertindak sendiri hingga melontarkan ancaman baru terhadap Teheran.
Perubahan sikap itu terlihat sejak penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada distribusi energi global. Pada pertengahan Maret, Trump sempat mendorong negara-negara sekutu untuk ikut turun tangan.
“Banyak negara akan mengirim kapal perang bersama Amerika Serikat untuk menjaga selat tetap terbuka,” ujarnya.
Namun, dua hari berselang, sikapnya berubah. Ia justru menegaskan Washington tidak membutuhkan bantuan pihak lain.
“Kita tidak butuh bantuan. Perang ini sudah berlangsung lama,” katanya singkat.
Tak berhenti di situ, Trump juga menyindir aliansi Barat. Ia bahkan menyebut NATO tidak berarti tanpa keterlibatan Amerika Serikat dan menuding negara-negara sekutu enggan mengambil risiko.
“Mereka mengeluh soal harga minyak, tapi tidak mau membantu. Para pengecut,” tulisnya.
Kekecewaan itu berlanjut hingga akhir Maret. Trump menyatakan Amerika tidak akan selalu membela sekutu yang dinilainya tidak menunjukkan timbal balik.
“Mereka seharusnya membantu kita, karena selama ini kita yang melindungi mereka,” ucapnya.
Di saat yang sama, ia sempat memberi sinyal perang akan segera berakhir.
“Kita sedang menyelesaikan ini. Mungkin dua minggu lagi,” katanya.
Namun pernyataan tersebut kembali berubah sehari kemudian. Dalam pidatonya, Trump justru mengancam akan meningkatkan serangan ke Iran.
“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras… kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu,” ujarnya.
Serangan militer pun terus berlanjut. Salah satu target terbaru adalah jembatan B1 di Karaj yang disebut sebagai jembatan tertinggi di kawasan Timur Tengah. Trump bahkan memperingatkan bahwa serangan lanjutan akan menyasar infrastruktur penting lainnya jika Iran tidak segera berunding.
“Banyak lagi yang akan menyusul. Sudah waktunya Iran membuat kesepakatan,” katanya.
Di sisi lain, laporan dari otoritas Iran menyebut serangan tersebut menimbulkan korban sipil dan kembali menghantam lokasi saat tim penyelamat berada di area.
Rentetan pernyataan yang berubah-ubah ini memperlihatkan belum adanya garis kebijakan yang konsisten dari Washington dalam menghadapi konflik yang telah berlangsung beberapa pekan tersebut. (San)