JAKARTA, AFU.ID - Di kanal Akbar Faizal Uncensored, diskusi antara Akbar Faizal dan Andi Widjajanto bergerak makin dalam. Dari soal rudal dan interseptor, pembicaraan melompat ke minyak, hegemoni, hingga peluang—atau ancaman—Perang Dunia Ketiga.
Semua kembali ke satu kata: energi.
Venezuela disebut memiliki cadangan sekitar 330 miliar barel. Secara angka, hampir sepadan dengan Iran. Namun Andi mengingatkan, menguasai cadangan minyak bukan perkara angka. Stabilitas politik adalah variabel penentu. Perusahaan energi besar Amerika disebut berhitung panjang sebelum masuk ke Venezuela. Satu nama yang bertahan—Chevron—itu pun keluar-masuk karena dinamika rezim yang tak menentu.
Artinya, minyak tetap menjadi pusat gravitasi geopolitik.
Di sisi lain, dukungan Rusia, Cina, hingga Korea Utara kepada Iran dinilai “terbaca”, meski tak selalu tampil di garis depan. Bantuan teknis, satelit pengintaian, logistik—semua beroperasi dalam bayang-bayang. Amerika Serikat, menurut Andi, berhitung agar konflik tidak melebar menjadi banyak front sekaligus. Jika Timur Tengah menyala, Taiwan tak boleh bergolak, Ukraina tak boleh membesar, Venezuela tak boleh bergerak bersamaan. Itu yang disebutnya sebagai ancaman overstretch.
Rusia dinilai disiplin: operasi militer dibatasi pada empat provinsi Ukraina timur, tanpa menyentuh Odesa. Cina pun tak bergerak frontal ke Taiwan. Semua seolah bermain dalam batas—menekan tanpa memicu ledakan global.
Lalu muncul pertanyaan besar: seberapa kuat Amerika Serikat mempertahankan peran hegemon?
Andi menyebut perilaku Washington kini kembali pada pola klasik hegemoni: maximizing power. Ia bahkan menyebut Amerika sebagai hegemon ke-17 dalam sejarah dunia—mengikuti jejak Romawi, Inggris, Belanda, hingga Spanyol—yang semuanya bersifat predatori. International Liberal Order, HAM, dan multilateralisme disebut sebagai fase “aneh” dalam sejarah hegemoni AS. Di bawah Donald Trump, menurutnya, karakter hegemon lebih “terbaca”: memotong akses energi Cina dari Iran dan Venezuela, memastikan tak muncul pesaing baru.
Namun, apakah ini menuju perang dunia?
Andi merumuskannya dalam empat “sekring”.
Pertama, konflik Iran melebar menjadi regional.
Kedua, kekuatan besar menerima gangguan ekonomi global sebagai konsekuensi.
Ketiga, Rusia atau Cina membuka teater baru di Asia Timur atau Eropa Timur.
Keempat—yang paling berbahaya—penangkalan nuklir runtuh.
Selama deterensi nuklir utuh, perang dunia sulit terjadi. Nuklir, paradoksnya, disebut sebagai “senjata perdamaian”—digelar untuk tidak digunakan. Begitu penangkalan itu patah, dunia bisa kembali ke konfrontasi simetris berskala global.
Di ujung diskusi, pembicaraan mengerucut pada Indonesia.
Presiden Prabowo mengambil langkah diplomatik dengan masuk dalam board perdamaian internasional dan menawarkan peran mediator. Posisi Indonesia kini lebih kondisional: membuka interaksi dengan Israel selama ada komitmen solusi dua negara dan jaminan keamanan. Leverage Indonesia, menurut Andi, bukan kekuatan militer, melainkan kapabilitas diplomasi—jejak panjang dari Kamboja hingga Vietnam.
Pertanyaannya: cukupkah itu di tengah arsitektur dunia yang makin realistis dan keras?
Diskusi berakhir tanpa kepastian. Hanya satu kesimpulan sementara: dunia berdiri di tepi kemungkinan, bukan kepastian. Peluang perang dunia disebut Andi sekitar 20–25 persen. Angka yang tak besar—tetapi cukup untuk membuat siapa pun berhenti sejenak.
Karena dalam geopolitik, sejarah sering bergerak bukan karena niat, melainkan karena kalkulasi yang meleset satu langkah. (*)