JAKARTA, AFU.ID — Dunia perbankan global tengah diguncang oleh temuan investigasi terkait gurita sistem pembayaran rahasia bernama "A7" yang dioperasikan Rusia. Jaringan ini merupakan sebuah sistem pencucian uang skala raksasa yang melibatkan ratusan perusahaan cangkang, yang memanfaatkan jaringan perbankan resmi. Laporan soal eksistensi A7 ini bocor setelah seorang pimpinan lembaga keuangan tersebut yang diidentifikasi Bernama samaran Shor, mengungkapkan keberadaan A7 kepada kantor berita Rusia TASS pada bulan Juli 2026 silam. "Kami memberikan kebebasan kepada perusahaan dan negara, karena sistem kami kebal terhadap sanksi," kata Shor, dikutip Rabu (23/9/2026).
Dari situ kemudian terungkap, bahwa jaringan A7 ini dirancang khusus untuk memfasilitasi transaksi impor Rusia sekaligus membobol sistem kepatuhan perbankan internasional pasca-terdepaknya bank-bank Rusia dari jaringan SWIFT akibat invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022. Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) adalah sebuah lembaga keuangan global yang berbasis di Belgia yang menyediakan jaringan komunikasi keuangan yang sangat aman dan standar bagi bank-bank serta lembaga keuangan di seluruh dunia.
Akibat terkena sanksi setelah melakukan serangan militer terhadap Ukraina, bank-bank Rusia, dilarang menggunakan jaringan SWIFT untuk transaksi keuangan global mereka. Akibatnya, bank-banki Rusia tidak bisa melakukan transfer uang secara normal ke luar negeri untuk membeli barang ekspor maupun melakukan impor, termasuk komponen militer/alat canggih.
Di sinilah kemudian pemerintah Rusia diduga membangun jaringan perbankan "Bawah tanah" yang diberi kode A7 untuk memfasilitasi transaksi keuangan bank-bank Rusia. Saking canggihnya system ini bekerja mangakali jaringan keuangan global resmi, Shor nerkoar pada TASS bahwa Kremlin pun memuji A7 sebagai penyedia utama pembayaran lintas batas untuk ekspor-impor Rusia sejak sanksi diberlakukan.
Lantas bagaimana A7 bekerja? Berdasarkan dokumen investigasi dan bocoran data internal perusahaan yang mencuat ke publik, skema A7 beroperasi dengan memanfaatkan jaringan perusahaan bayangan (front companies) global. Dalam skema ini, perusahaan-perusahaan tersebut mengatur agar uang tunai didepositokan di bank-bank dalam sistem resmi SWIFT. Duit deposito itu,kemudian digunakan untuk melunasi tagihan luar negeri perusahaan-perusahaan Rusia.
Untuk itu, jaringan A7 membuat ratusan perusahaan fiktif atau perusahaan bayangan (front companies) di berbagai negara, termasuk UEA, Hong Kong, hingga Indonesia. Investigasi mendalam mendapati bukti bahwa setidaknya terdapat 100 perusahaan bayangan A7 yang aktif melakukan pembayaran selama periode kebocoran data. Dokumen tersebut menyebutkan setidaknya ada lebih dari 100 kelompok perusahaan serupa, yang mencakup sedikitnya 61 entitas di Uni Emirat Arab (UEA), 87 entitas di Hong Kong, 16 entitas di Kirgistan, hingga 14 entitas di Indonesia.
Perusahaan-perusahaan siluman ini ini menyetor uang tunai ke bank-bank resmi yang masih ada di dalam sistem SWIFT. Karena kelihatannya perusahaan biasa, bank resmi tidak curiga. Uang-uang tersebut lalu dipakai untuk membayar tagihan belanja perusahaan-perusahaan di Rusia. Untuk menyamarkan jejak bahwa transaksi asli dilakukan oleh Rusia, A7 bertindak sebagai "pabrik" pemalsu dokumen profesional. Mereka menyiapkan ribuan stempel palsu, atau stemple asli perusahaan yang "dibajak", serta membuat faktur (invoice) bohong.

Dalam praktiknya, Ketika terjadi sebuah transaksi, maka perusahaan-perusahaan cangkang ini akan memalsukan transaksi seperti memalsukan dokumen jenis barang yang diekspor/impor, dengan mengunakan stempel-stempel dan faktur bodong itu. Instruksi ketat diberikan kepada perusahaan cangkang, mengenai cara menggambarkan jenis barang yang dibeli atau dijual, agar tidak memicu kecurigaan otoritas perbankan dan bea cukai resmi.
Karyawan bahkan diinstruksikan untuk mengganti kode bea cukai untuk barang-barang yang terkena sanksi dengan alternatif terdekat yang tidak dikenai sanksi. Dalam sebuah percakapan internal yang bocor ke public, diketahui seorang staf A7 mendiskusikan kueri kepatuhan bank mengenai pembayaran senilai 3,6 juta yuan (US$510.000) untuk 500 teropong pengelihatan malam atas nama klien Rusia pada Februari 2025.
Meskipun faktur klien mencantumkan "Thermal Scope-HR50L", staf A7 awalnya membuat dokumen palsu yang menyatakan klien membeli kaca tempered atau kaca pengaman (toughened glass). Namun kemudian dokumen diganti lagi menjadi pembelian alas kaki. Namun, staf lain diketahui telah menyatakan kekhawatirannya bahwa pergantian dokumen jenis barang itu malah akan menimbulkan pertanyaan karena pihak pembeli, sebelumnya telah memiliki pembayaran yang dicatat sebagai kamera atau barang optik.
Percakapan tersebut ditutup dengan keputusan seorang staf yang lebih otoritatif kedudukannya. "Kalau begitu, biarkan saja sebagai kaca," demikian bocoran percakapan tersebut. Praktik serupa terjadi pada dokumen transaksi senilai €1,8 juta dari akun di Dubai Islamic Bank ke Banque Misr yang berasal dari Solara Rise, sebuah perusahaan bayangan A7 di UEA. Dokumen yang disiapkan dirancang seolah-olah transaksi tersebut untuk jual-beli alat elektronik sederhana, termasuk lebih dari 1.000 adaptor daya, guna menutupi substansi perdagangan militer di baliknya.
Dari hasil investigasi itu diketahui, jaringan A7 tercatat telah mengalirkan dana lebih dari US$6,9 miliar melalui bank-bank global menggunakan perusahaan bayangan dan dokumen perdagangan palsu antara akhir 2024 hingga Agustus 2025. Melalui cabang Standard Chartered di Hong Kong saja, tercatat masuk dana sekitar US$1,1 miliar dari entitas yang terhubung dengan A7.
Melalui First Abu Dhabi Bank di UEA, 17 perusahaan yang terhubung dengan A7 mengirimkan pembayaran keluar (outbound payments) senilai lebih dari US$1,8 miliar sebelum akhirnya rekening tersebut ditutup oleh pihak bank. Selain jalur perbankan konvensional di atas, investigasi terpisah oleh firma analitik blockchain (seperti TRM Labs dan Elliptic) juga mencatat aktivitas volume transaksi on-chain (kripto/stablecoin) yang terhubung dengan ekosistem A7 dalam skala yang jauh lebih besar lagi, dengan estimasi mencapai kisaran US$102 miliar hingga US$166 miliar, serta klaim akumulatif turnover internal perusahaan yang menyentuh angka US$140 miliar.
Zach Tvarozna, mantan analis perbankan pemerintah AS yang menulis laporan tentang A7 menyatakan, berdasarkan kebocoran data sebelumnya dari perusahaan tersebut, diketahui skala transaksi lembaga keuangan ini memang sangat besar. "Data baru di sini benar-benar menunjukkan bahwa skala sebenarnya dari jaringan pencucian uang A7 jauh lebih besar daripada yang pernah disadari siapa pun sebelumnya," ujarnya. "Material tersebut harus membuat kita berpikir ulang tentang betapa sulitnya menjaga perbankan koresponden tradisional tetap bersih," tambahnya.
Zach mengungkapkan, sebagai penyedia pembayaran utama untuk bisnis sipil konvensional yang mengklaim menangani hampir seperlima dari transaksi valuta asing Rusia, A7 mengerahkan upaya besar untuk mengecoh pemeriksaan antipencucian uang di bank-bank resmi. Dengan terbongkarnya modus operandi jaringan global ini, tekanan kini beralih kepada otoritas finansial dan penegak hukum internasional untuk mengawasi celah kepatuhan lintas yurisdiksi, termasuk mengantisipasi pergerakan entitas bayangan yang tercatat beroperasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. (MAR)