JAKARTA, AFU.ID — Sejumlah gempa bumi besar mengguncang berbagai belahan dunia secara beruntun dalam waktu kurang dari 24 jam pada Kamis (25/6/2026). Gempa-gempa kuat itu melanda Venezuela, Jepang, Amerika Serikat, hingga Papua Nugini hampir dalam waktu bersamaan, memunculkan pertanyaan publik apakah rentetan bencana tersebut saling berkaitan.
Diketahui, Venezuela menjadi negara dengan dampak terparah setelah diguncang dua gempa besar berkekuatan magnitudo 7,2 dan magnitudo 7,5 hanya dalam selisih waktu sekitar 39 detik. Gempa kedua berpusat di darat, sekitar 23 kilometer tenggara Yumare, dengan kedalaman 10 kilometer, dan dipicu oleh mekanisme sesar geser.
Guncangan beruntun itu meruntuhkan banyak bangunan dan menyebabkan sedikitnya 188 orang tewas serta 1.500 orang lainnya terluka. Presiden interim Venezuela, Delcy Rodriguez, mengumumkan status keadaan darurat nasional dan meminta dukungan dana dari organisasi multilateral untuk membantu proses pemulihan. "Kami menyampaikan belasungkawa kami kepada mereka yang sayangnya telah kehilangan anggota keluarga," ujarnya dalam pidato kenegaraan yang disiarkan secara nasional, pada Kamis (25/6/2026).
Lebih lanjut, sekitar 25 menit setelah gempa Venezuela, giliran Jepang bagian utara yang diguncang gempa kuat. Titik episenternya berada di laut, sekitar 35 kilometer timur-timur laut Kuji, dengan kedalaman menengah 51,7 kilometer. Gempa di Jepang ini dilaporkan melukai sejumlah orang, mengganggu layanan kereta cepat, dan memaksa beberapa sekolah ditutup sementara.
Pada malam sebelumnya, California Utara, Amerika Serikat, juga diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,6, dengan pusat gempa di darat sekitar 11 kilometer arah utara Redwood Valley pada kedalaman sangat dangkal, yakni 8,9 kilometer. Selain itu, gempa berkekuatan magnitudo 5,4 turut tercatat di Kokopo, Papua Nugini, dalam rentang waktu 24 jam yang sama. Media Pakistan, Geo News, bahkan melaporkan ada sebanyak 1.351 gempa bumi yang tercatat di seluruh dunia sepanjang Kamis hingga Jumat (26/6).
Tidak Saling Berkaitan
Dikutip dari CNN, seismolog Institut Teknologi California (Caltech), Dr. Lucy Jones, menjelaskan gempa-gempa tersebut terjadi pada sistem patahan dan batas lempeng yang terpisah, sehingga satu gempa tidak memicu gempa lainnya. Menurutnya, gempa besar yang terjadi pada lokasi berjarak ribuan mil umumnya tidak meningkatkan kemungkinan terjadinya gempa besar lain di tempat yang berbeda.
Pendapat serupa disampaikan seismolog Universitas California, Berkeley, Dr. Angela Lux, yang dikutip dari ABC. Menurutnya, tidak ada bukti saintifik yang menunjukkan keterkaitan antara gempa-gempa yang terjadi pada Kamis, karena jarak antarlokasi gempa terlalu jauh untuk bisa saling memengaruhi.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, juga menegaskan ketiga gempa di California Utara, Venezuela, dan Jepang tidak saling berkaitan karena dipicu sumber yang berbeda dan lokasinya saling berjauhan. "Aktivitas tektonik planet bumi meningkat tajam dalam kurun waktu kurang dari 12 jam," kata Daryono dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).
Daryono menjelaskan, gempa di California Utara dan Venezuela dipicu pergeseran sesar atau patahan lokal, sementara gempa di Jepang bersumber dari aktivitas subduksi lempeng atau megathrust. Ia menambahkan rangkaian gempa di Venezuela tergolong jenis doublet earthquake, di mana gempa utama magnitudo 7,5 didahului oleh gempa pendahuluan magnitudo 7,2 hanya berselisih waktu sekitar 40 detik.
Menurut para ahli, waktu kejadian gempa-gempa itu memang berdekatan, namun lokasinya bukan kebetulan. Setiap gempa terjadi di sepanjang batas lempeng aktif yang dikenal telah menumpuk tekanan selama beberapa dekade hingga berabad-abad, sehingga gempa besar merupakan bagian dari siklus alam yang diperkirakan terjadi di kawasan tersebut, meski waktu pastinya tetap tidak dapat diprediksi.
Skala bencana di Venezuela turut berdampak pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Menyusul tingginya jumlah korban, otoritas AS melonggarkan sebagian sanksi ekonomi terhadap Venezuela untuk membuka ruang bagi transaksi yang berkaitan dengan upaya bantuan gempa, sekaligus mengumumkan komitmen bantuan senilai 150 juta dolar AS untuk membantu penanganan dampak bencana di negara tersebut.
Rangkaian peristiwa ini turut menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire jalur pertemuan lempeng tektonik yang dikenal sebagai zona paling aktif secara seismik dan vulkanik di dunia, membentang dari Amerika Selatan hingga Oceania untuk terus memperkuat kesiapan dan mitigasi bencana gempa bumi. (NAD)