JAKARTA, AFU.ID — Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk PBB di Jenewa Ali Bahreini mengklaim Selat Hormuz telah terbuka bagi kapal dagang setelah Iran dan Amerika Serikat menyepakati pemulihan pelayaran di jalur strategis itu.
“Selat itu sepenuhnya terbuka bagi kapal dagang,” kata Bahreini kepada wartawan di Jenewa, Selasa, (23/6/2026).
Bahreini menyebut sejumlah besar minyak telah dikirim melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Iran menyatakan lalu lintas kapal di perairan tersebut kembali beroperasi setelah konflik militer yang berlangsung sejak akhir Februari.
Namun, peningkatan pelayaran belum serta-merta menandakan arus kapal telah pulih sepenuhnya. Sejumlah kapal tanker memang mulai melintas, tetapi volume lalu lintas masih berada di bawah tingkat sebelum konflik.
Pemulihan jalur pelayaran juga masih dibayangi hambatan teknis, termasuk pembersihan ranjau di perairan selat dan perbaikan fasilitas pelabuhan yang terdampak konflik. Kondisi itu membuat pembukaan Selat Hormuz masih bergantung pada pelaksanaan kesepakatan di lapangan.
Kesepakatan sementara Iran dan AS, yang dikenal sebagai MoU Islamabad, memuat komitmen AS untuk mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran secara bertahap. Iran, di sisi lain, diminta memulihkan keamanan dan lalu lintas kapal komersial melalui Selat Hormuz.
Dokumen tersebut memberi tenggat 30 hari untuk penghapusan hambatan teknis dan militer terhadap pelayaran. Kesepakatan itu juga membuka masa negosiasi selama 60 hari untuk membahas pengaturan lanjutan antara kedua negara.
Persoalan pengelolaan Selat Hormuz belum sepenuhnya selesai. Rencana Iran untuk mengatur layanan pelayaran dan kemungkinan pungutan bagi kapal yang melintas masih berpotensi menjadi titik sengketa dalam perundingan lanjutan. (RHU)