JAKARTA, AFU.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum menyetujui perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.
Rapat khusus di Situation Room Gedung Putih pada Jumat, (29/5/2026), berakhir tanpa kejelasan keputusan.
Trump sebelumnya menyebut akan membuat penentuan akhir soal kerangka kesepakatan dengan Iran.
Kerangka itu disebut dapat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Namun, Trump memasang sejumlah syarat sebelum menyetujui kesepakatan.
Ia menuntut Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Trump juga meminta Selat Hormuz dibuka untuk lalu lintas kapal tanpa hambatan.
Amerika Serikat turut menuntut ranjau di jalur laut itu dihancurkan.
Trump juga meminta Iran mengizinkan Amerika Serikat mengambil dan menghancurkan uranium yang telah diperkaya.
Iran menolak pembicaraan soal program nuklirnya.
Teheran menyatakan program nuklirnya untuk kepentingan sipil.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut fokus mereka saat ini adalah mengakhiri perang.
Iran juga membantah ada kesepakatan soal penghancuran material nuklir.
Gedung Putih menyebut Trump hanya akan menerima kesepakatan yang memenuhi garis merah Amerika Serikat.
Salah satu garis merah itu adalah Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Ketegangan masih terjadi di tengah proses diplomasi.
Amerika Serikat dan Iran saling menuduh melanggar gencatan senjata dalam beberapa hari terakhir.
Selat Hormuz masih menjadi titik penting dalam negosiasi.
Jalur laut itu menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas dunia.
Sekitar seperlima pasokan energi dunia biasanya melewati Selat Hormuz. (RHU)
Sumber: BBC, Reuters, Al Jazeera