JAKARTA, AFU.ID — Kualitas sumber daya manusia di sektor pendidikan tinggi keagamaan rawan tertinggal akibat lambatnya adaptasi kurikulum berbasis sains dan teknologi modern. Ketimpangan keahlian teoritis ini berisiko memperlemah daya saing lulusan lokal dalam menghadapi persaingan pasar tenaga kerja global yang semakin kompetitif.
Melansir website Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), Minggu (5/7/2026), pembenahan sistem akademik Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) kini mulai difokuskan pada integrasi keilmuan sekuler dan keagamaan. Langkah strategis tersebut diambil untuk menjawab dinamika tantangan sosial serta menyediakan solusi konkret bagi problematika masyarakat modern di era digital.
Oleh karena itu, penambahan kluster program studi teknologi dirancang sebagai pendorong utama perubahan fundamental bagi tata kelola kelembagaan kampus. Peningkatan mutu pengajaran mutlak berjalan searah dengan pembentukan kecakapan praktis guna melahirkan agen perubahan yang responsif.
“Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) harus mampu meningkatkan otoritasnya sebagai penghasil cendekiawan yang kapabel,” ungkap Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenag RI, Kamaruddin Amin.
Sementara itu, reputasi internasional dibuktikan lewat pencapaian jurnal ilmiah universitas yang sukses mempertahankan peringkat tertinggi Scimago Journal Rank (SJR) selama delapan tahun berturut-turut. Konsistensi prestasi akademik tingkat global tersebut wajib dibarengi dengan komitmen penegakan tata kelola birokrasi yang bersih melalui implementasi zona integritas bebas korupsi.
"Prestasi luar biasa yang telah diraih UIN Salatiga ini dipertahankan berbarengan dengan memperluas dampak nyata di tengah masyarakat. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) diposisikan untuk meningkatkan otoritasnya sebagai penghasil cendekiawan yang kapabel," tutur Kamaruddin Amin.
Di sisi lain, operasionalisasi wadah pendidikan baru ini diselaraskan dengan konsep Green Wasathiyah Campus yang memadukan nilai moderasi beragama dengan pelestarian lingkungan hidup. Penerapan model laboratorium sosial berwawasan ekologis ini diharapkan mampu mencetak ilmuwan muslim yang memiliki kepekaan tinggi terhadap kelestarian bumi pertiwi.
"UIN Salatiga dengan tambahan Fakultas Saintek ini disiapkan untuk menjadi laboratorium hidup bagi tumbuhnya generasi yang unggul secara akademik, namun tetap memiliki kepedulian terhadap bumi sebagai amanah Allah Swt," tegas Rektor UIN Salatiga, Zakiyuddin Baidhawy.
Pada dasarnya, peluncuran tiga pilihan program studi baru seperti Sains Data dan Teknologi Informasi menjadi momentum krusial bagi akselerasi mutu pendidikan. Ke depan, konsistensi universitas dalam mengawal standardisasi pembelajaran sains akan menentukan efektivitas kontribusi dunia akademik terhadap peningkatan daya saing bangsa secara menyeluruh. (ADR)