JAKARTA, AFU.ID — Puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya mendesak Prof. Akh. Muzakki mundur dari jabatan Pelaksana Tugas Rektor. Mereka menilai keikutsertaan Muzakki sebagai calon rektor berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dalam proses pemilihan pimpinan UINSA periode 2026–2030. Desakan tersebut disampaikan dalam aksi unjuk rasa di depan Kampus UINSA, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rabu (15/7/26). Massa membawa poster bertuliskan penolakan terhadap pencalonan kembali Muzakki dan meminta proses pemilihan rektor berlangsung transparan.
Massa sebelumnya berkumpul di kawasan Jatim Expo. Sekitar pukul 14.00 WIB, mereka berjalan menuju gerbang kampus melalui Jalan Frontage Ahmad Yani sehingga arus lalu lintas sempat mengalami perlambatan. Sesampainya di depan kampus, mahasiswa menyampaikan orasi secara bergantian. Mereka juga membacakan puisi, membakar ban bekas, serta membakar jaket almamater sebagai simbol kekecewaan terhadap kepemimpinan kampus.
Aksi tersebut berfokus pada posisi Muzakki yang saat ini menjalankan tugas sebagai Plt Rektor, tetapi juga tercatat sebagai salah satu peserta dalam pemilihan rektor. Dokumen resmi penerimaan mahasiswa baru UINSA pada Juni 2026 mencantumkan Akh. Muzakki sebagai Plt Rektor. Muzakki sebelumnya menjabat Rektor UINSA periode 2022–2026 setelah dilantik Menteri Agama pada 6 Juni 2022. Dalam proses pemilihan periode 2026–2030, namanya kembali masuk dalam daftar 13 guru besar yang mendaftar sebagai calon rektor.
Mahasiswa menilai posisi sebagai Plt Rektor dapat memberikan pengaruh terhadap proses pemilihan. Karena itu, mereka meminta Muzakki melepaskan jabatan sementara tersebut demi menjaga netralitas dan kepercayaan sivitas akademika. “Pimpinan sementara yang juga menjadi calon rektor berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dalam proses pemilihan,” demikian pokok tuntutan massa.
Selain meminta Muzakki mundur, mahasiswa mendesak Menteri Agama segera menyelesaikan pemilihan dan mengumumkan rektor definitif secara transparan, objektif, serta sesuai peraturan. Mereka juga meminta Komisi VIII DPR memanggil Menteri Agama dan mengevaluasi kepemimpinan Muzakki selama periode 2022–2026. Mahasiswa menilai sejumlah persoalan tata kelola, keterbukaan informasi, fasilitas, pelayanan akademik, dan kebebasan menyampaikan pendapat belum ditangani secara memadai.
Dalam pernyataan sikapnya, massa turut menuding adanya kepentingan politik organisasi kemasyarakatan dalam dinamika pemilihan rektor. Namun, mahasiswa belum menyertakan bukti terperinci yang menghubungkan proses pemilihan UINSA dengan agenda politik organisasi tertentu. Mereka juga menyinggung hasil pemantauan keterbukaan informasi publik, kinerja satuan tugas pencegahan kekerasan seksual, serta dugaan penyempitan ruang kritik mahasiswa. Seluruh tuduhan tersebut masih berupa pernyataan pihak pengunjuk rasa dan membutuhkan penjelasan dari UINSA.
Mahasiswa meminta pimpinan kampus menjamin seluruh pelayanan akademik tetap berjalan selama kekosongan rektor definitif. Jaminan itu mencakup pelaksanaan yudisium, wisuda, penerbitan ijazah dan transkrip, serta layanan administrasi bagi mahasiswa dan tenaga pendidik. Aparat kepolisian telah bersiaga di depan gerbang kampus sejak siang dan mengawal rute pergerakan massa. Aksi berlangsung kondusif, meskipun arus kendaraan di Jalan Frontage Ahmad Yani sempat tersendat. (RHU)