JAKARTA, AFU.ID — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengingatkan perguruan tinggi agar tidak hanya fokus memberikan teori kepada mahasiswa. Kampus juga harus membekali mahasiswa dengan kemampuan dan kesiapan memasuki dunia kerja agar lulusannya relevan dengan kebutuhan masyarakat dan industri.
Hal itu disampaikan Fauzan saat melakukan kunjungan kerja ke Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) di Kota Madiun, Jawa Timur, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Fauzan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk masa depan mahasiswa. Karena itu, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi harus disesuaikan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat dan kebutuhan dunia kerja.
“Jangan sampai perguruan tinggi tidak paham siapa yang akan menggunakan lulusannya,” kata Fauzan.
Ia mengatakan hasil riset Dewan Pendidikan Tinggi Kementerian Diktisaintek menunjukkan orang tua dan calon mahasiswa memiliki ekspektasi yang jelas terhadap perguruan tinggi. Mereka menginginkan kampus yang mampu memberikan kepastian masa studi, memiliki jaringan yang luas, serta membuka peluang kerja bagi lulusannya.
Menurut Fauzan, tuntutan tersebut membuat perguruan tinggi tidak cukup hanya menyampaikan materi akademik. Kampus juga perlu membangun koneksi dengan dunia usaha, industri, pemerintah, dan sektor swasta agar mahasiswa memperoleh pengalaman serta kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja.
Ia menilai kolaborasi tersebut penting untuk meningkatkan daya saing lulusan sekaligus memastikan keterhubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.
Dalam kunjungan itu, Fauzan juga menyoroti posisi UMJT yang masih berada dalam tahap pengembangan setelah berganti nama dari Universitas Muhammadiyah Madiun. Ia meminta kampus menyusun peta jalan pengembangan secara matang sejak awal.
“Mumpung masih baru, harus bisa dipetakan hal-hal yang harus dilakukan,” katanya.
Selain menyiapkan lulusan yang siap kerja, Fauzan menekankan pentingnya pelayanan kampus yang humanis. Menurut dia, pelayanan kepada mahasiswa tidak boleh berhenti pada urusan administratif semata.
UMJT sebelumnya bernama Universitas Muhammadiyah Madiun. Perubahan nama tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 480/B/O/2026 pada 5 Mei 2026.
Kampus itu memiliki sejumlah program studi, antara lain Administrasi Kesehatan, Biokewirausahaan, Ilmu Aktuaria, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Ilmu Komunikasi, Ilmu Lingkungan, dan Kebidanan.
Fauzan menegaskan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa, pembukaan program studi baru, atau perubahan identitas kampus. Yang lebih penting adalah kemampuan kampus menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik sekaligus kesiapan untuk memasuki dunia kerja. (RHU)