JAKARTA, AFU.ID — Relawan kemanusiaan Ahmad Zaki Ali meninggal dunia saat menjalankan misi penyaluran bantuan bagi warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (21/8/2026). Kepergian pendiri Gerak Bareng tersebut terjadi ketika ia tengah berada dalam perjalanan menuju lokasi distribusi bantuan bersama sejumlah relawan.
Ahmad Zaki bersama tim sebelumnya berada di wilayah Flores untuk membantu masyarakat terdampak bencana. Ia berangkat dari wilayah Reo menuju Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, sambil membawa bantuan yang akan disalurkan kepada warga. Dalam perjalanan tersebut, kondisi Ahmad Zaki tiba-tiba memburuk hingga akhirnya mendapatkan pertolongan dari rekan-rekan relawan.
Ahmad Zaki sempat dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan dan ia dinyatakan meninggal dunia pada Jumat sore. Dugaan awal menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan kelelahan setelah menjalankan aktivitas kemanusiaan, sementara penyebab pasti masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut.
Proses pemulangan jenazah Ahmad Zaki dilakukan setelah koordinasi antara relawan dan unsur terkait di wilayah Manggarai Timur. Jenazah kemudian dievakuasi dari lokasi sebelum diterbangkan ke Jakarta untuk diserahkan kepada keluarga. Akses wilayah yang terdampak bencana menjadi salah satu tantangan dalam proses evakuasi tersebut.
Jenazah Ahmad Zaki dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu malam. Prosesi pemakaman berlangsung dengan iringan lebih dari 50 mobil ambulans yang membawa rekan-rekan relawan untuk memberikan penghormatan terakhir. Sejumlah relawan juga berjalan kaki mengantar jenazah hingga lokasi pemakaman.
Bagi keluarga dan rekan-rekan relawan, Ahmad Zaki dikenal bukan hanya melalui aktivitas sosialnya, tetapi juga konsistensinya dalam merespons berbagai situasi bencana. Kakak pertama Ahmad Zaki, Reza, mengatakan almarhum memiliki sisi berbeda ketika berada di lingkungan keluarga dibandingkan perannya sebagai aktivis kemanusiaan. "Beliau di luar mungkin punya atribut sebagai seorang aktivis, sebagai founder Gerak Bareng, sebagai aktivis pemuda Muslim, tapi ketika di keluarga, dia melepas semua atribut itu," ujar Reza.
Reza mengatakan Ahmad Zaki merupakan sosok yang memiliki kepedulian besar terhadap penanganan bencana. Ia menyebut adiknya selalu berusaha hadir ketika terjadi musibah di berbagai wilayah, termasuk dalam kegiatan mitigasi dan pemberian bantuan kepada masyarakat terdampak. "Misalkan hari ini gempa, mungkin malam sudah tiba di lokasi gempa. Kalau tsunami Aceh, hari pagi ini, malam sudah di Aceh. Beliau termasuk yang sangat responsif berkaitan dengan mitigasi bencana. Dan itu yang menjadi passion beliau," kata Reza.
Selain aktif dalam respons kebencanaan, Ahmad Zaki juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Rekan-rekannya mengenang keterlibatan almarhum dalam membangun gerakan kemanusiaan, termasuk mengajak kelompok masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan positif. Kepergian Ahmad Zaki terjadi saat ia menjalankan aktivitas yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, yakni membantu masyarakat yang membutuhkan. Misi kemanusiaan terakhirnya di Flores menjadi catatan perjalanan seorang relawan yang dikenal selalu bergerak ketika bencana terjadi. (RHU)