JAKARTA, AFU.ID — Tiga perguruan tinggi di tanah Papua ikut dalam aksi riset Pasifik 2026-2030.
Melansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI), Minggu (31/5/2026), ketiganya adalah Universitas Papua (UNIPA), Universitas Cenderawasih (UNCEN), dan Universitas Okmin Papua (UOP).
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Kelautan KKP RI, Koswara menyatakan keikutsertaan kampus-kampus tersebut untuk guna mendukung pembangunan kelautan yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.
Termasuk memperkuat peran strategis Indonesia dalam diplomasi dan kerja sama kelautan internasional, melalui dukungan terhadap kolaborasi riset regional kawasan Pasifik dan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).
Koswara menegaskan pentingnya penguatan kolaborasi riset lintas negara sebagai fondasi menjaga keberlanjutan ekosistem laut Pasifik dan Coral Triangle yang terkenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Terlebih lagi, Indonesia mempunyai posisi strategis dalam menjembatani kerja sama negara-negara Asia Tenggara maupun Pasifik dalam isu kelautan, konservasi, dan ekonomi biru.
Pasalnya, tantangan perubahan iklim, degradasi ekosistem pesisir, serta tekanan terhadap sumber daya laut dan perikanan tak dapat terselesaikan secara parsial oleh satu negara saja.
Koswara menyebut, kerja sama kuat berbasis sains, inovasi, dan pertukaran pengetahuan antarnegara di kawasan sangat penting.
“KKP mendukung penuh penguatan kolaborasi riset internasional sebagai langkah konkrit menjaga masa depan laut,” ungkapnya.
“Kawasan Pasifik dan Coral Triangle memiliki keterhubungan ekologi sangat erat, sehingga pengelolaannya membutuhkan sinergi regional yang solid, berbasis ilmu pengetahuan dan kepentingan bersama,” sambungnya.
Koswara menyampaikan, kementeriannya terus mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) kelautan, pengembangan riset bersama, pertukaran data ilmiah, dan penguatan kebijakan berbasis sains guna mendukung pengelolaan laut yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Penguatan kerja sama regional pun tercapai melalui pembentukan Bismarck Solomon Seascape (BSS) Science Hub–University Partnership dalam kerangka Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF).
Kerja sama tersebut melibatkan perguruan tinggi dan mitra strategis dari Indonesia, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon.
Kolaborasi berfokus penguatan riset pesisir dan kelautan, peningkatan kapasitas SDM, serta pengembangan kebijakan berbasis sains melalui penyusunan rencana aksi bersama 2026-2030.
Kemudian pembentukan tim riset lintas negara, pertukaran dosen dan mahasiswa, simposium ilmiah, pembelajaran lapangan, hingga publikasi bersama.
Kerja sama tersebut juga mendorong integrasi kearifan lokal dan pengetahuan tradisional masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya laut di Bismarck Solomon Seascape dengan melibatkan tiga perguruan tinggi Papua.
Sementara itu, Sakti Wahyu Trenggono selaku Menteri KKP RI menekankan, penguatan ekonomi biru harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem laut dan penguatan kolaborasi global.
“Kebijakan tersebut terus diwujudkan melalui pengelolaan laut berbasis sains, konservasi berkelanjutan, dan penguatan kemitraan internasional demi menjaga kesehatan laut sebagai penopang ketahanan pangan, iklim, serta kesejahteraan masyarakat dunia,” tuturnya. (ADR)