Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Kompetensi Riset Rendah, Mutu Publikasi Ilmiah Perguruan Tinggi Terancam Stagnan
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Publikasi ilmiah bermutu di lingkungan perguruan tinggi rawan stagnan akibat tingginya penolakan draf oleh penerbit internasional. Lemahnya ketajaman substansi riset menjadi faktor utama pemicu kegagalan itu.
(Foto: Kemdiktisaintek RI)
JAKARTA, AFU.ID — Publikasi ilmiah bermutu di lingkungan perguruan tinggi rawan stagnan akibat tingginya penolakan draf oleh penerbit internasional. Lemahnya ketajaman substansi riset menjadi faktor utama pemicu kegagalan itu.
Melansir website Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI), Minggu (12/7/2026), penataan kapasitas peneliti terlaksana melalui klinik penulisan intensif nasional. Agenda penulisan strategis pun berlangsung secara kolektif di Kota Pontianak pada 7-10 Juli 2026 lalu.
Penyempurnaan naskah sejak tahap awal pendaftaran sangat mutlak adanya guna meminimalkan kegagalan pengajuan artikel. Lembaga pemerintah mengarahkan luaran konkret agar karya akademisi daerah mampu menembus target jurnal tertinggi.
“Sejak proses pendaftaran, peserta telah diminta membawa draf artikel yang siap diajukan atau artikel yang sebelumnya pernah ditolak oleh penerbit. Harapannya, setelah mengikuti workshop ini, artikel-artikel dapat disempurnakan sehingga lebih siap diterima pada jurnal ilmiah nasional terakreditasi Sinta 1 atau Sinta 2 maupun jurnal internasional bereputasi,” ungkap Ketua Tim Kompetensi Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan, Yuni Syam.
Keterbukaan akses informasi menuntut para peneliti memiliki kemampuan mengevaluasi hasil karya mereka secara kritis. Pengalaman mengajar bertahun-tahun terbukti tak menjadi jaminan mutu tanpa adanya pembaruan metodologi yang valid.
“Kita hidup di era informasi yang terbuka, sehingga semua bisa dikritisi dan pengalaman saja bukan jaminan. Bagaimana kita memahami dan mengaplikasikan pengalaman itulah yang menentukan output,” tutur Rektor Universitas Muhammadiyah Pontianak, Heriansyah.
Bagaimanapun juga, pengelompokan peserta berdasarkan rumpun keilmuan sangat krusial untuk mendongkrak keberhasilan publikasi ilmiah nasional. Pembagian fokus pendampingan bagi 91 peserta terbukti efektif menajamkan kelayakan etika penelitian di lapangan.
“Sebuah manfaat yang sangat besar bagi saya berada di sini adalah pertemuan ini membuka jalan untuk kami menjalin kolaborasi. Saya mendengar dari beberapa teman, ‘yuk kita bikin bareng ini, ini kita bisa join’, dan ini menjadi pengalaman yang luar biasa,” ucap Dosen Universitas Pancabakti, Elika.
Pada dasarnya, efektivitas peningkatan mutu riset domestik sangat bergantung pada keberlanjutan pendampingan pasca-pelatihan. Tanpa adanya ketegasan hukum terhadap praktik plagiasi, kuantitas jurnal hanya akan menjadi dokumen formalitas tanpa dampak konkret bagi penyelesaian persoalan masyarakat. (ADR)