Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Profil Rustian, Sekretaris Utama BNPB yang Terjaring OTT KPK, Lulusan Farmasi Andalas
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 13 Oktober 2026, yang mengakibatkan penangkapan 14 orang, termasuk Sekretaris Utama BNPB, Rustian. OTT ini terkait dengan pengadaan barang dan jasa menggunakan Dana Siap Pakai untuk kebencanaan, di mana penyidik menyita uang tunai sekitar Rp1,4 miliar dan logam mulia. Rustian, yang merupakan lulusan Universitas Andalas dan memiliki pengalaman di bidang administrasi dan penanggulangan bencana, dilantik sebagai Sekretaris Utama BNPB pada Juli 2023 dan melaporkan kekayaan bersih sebesar Rp3,5 miliar tanpa utang.
Sekretaris Utama BNPB, Rustian. (BNPB)
JAKARTA, AFU.ID — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar operasi tangkap tangan (OTT) di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa (13/10/2026). Sebanyak 14 orang diciduk dalam operasi tersebut, termasuk Sekretaris Utama BNPB Rustian dan pejabat pembuat komitmen (PPK), dan pihak swasta. Penyidik turut menyita uang tunai senilai sekitar Rp1,4 miliar dan sejumlah logam mulia emas yang jumlah keseluruhannya masih dihitung.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan bahwa perkara tersebut berkaitan dengan pengadaan yang menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) untuk kebencanaan. “OTT ini berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa di lingkungan BNPB,” kata Budi. Namun, Budi tidak menjelaskan secara rinci jenis pengadaan maupun bencana mana yang berkaitan dengan perkara tersebut.
Profil Rustian
Rustian lahir pada 1 Januari 1969 dan memulai karier sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Kesehatan pada 1998. Rustian merupakan lulusan Sarjana Sains dan profesi apoteker dari Universitas Andalas, dan meraih gelar Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Universitas Gadjah Mada pada 2005. Pendidikan akademiknya berlanjut hingga jenjang doktor Ilmu Administrasi Publik di Universitas Brawijaya pada 2022 melalui disertasi mengenai reformasi tata kelola peralatan penanggulangan bencana dalam perspektif smart governance.
Setelah sekitar satu dekade bekerja di Kementerian Kesehatan, Rustian berpindah ke BNPB pada 2008, meniti karier di bidang administrasi dan dukungan operasional. Ia pernah menjabat Kepala Biro Umum sebelum dilantik sebagai Direktur Peralatan pada Deputi Bidang Logistik dan Peralatan pada Januari 2016. Pengalamannya kemudian berkembang ke pengelolaan logistik dan peralatan, termasuk ketika Indonesia menghadapi pandemi Covid-19.
Pada Juli 2021, Rustian dipercaya menjadi Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat, posisi yang berkaitan dengan dukungan operasional penanganan bencana. Ia kemudian menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas Sekretaris Utama sebelum dilantik secara definitif oleh Kepala BNPB Suharyanto pada 28 Juli 2023. Sebagai Sestama, ia bertanggung jawab dalam koordinasi perencanaan, administrasi, sumber daya, serta integrasi program dan kebijakan di lingkungan BNPB.
Di luar pekerjaannya sebagai birokrat, Rustian aktif dalam organisasi profesi dan alumni perguruan tinggi. Ia pernah menjabat Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andalas periode 2021–2025 serta memimpin bidang pengabdian masyarakat dan tanggap bencana di Ikatan Apoteker Indonesia selama dua periode, yakni 2014–2022.
Harta Kekayaan Rustian
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) periodik 2025 yang disampaikan pada 20 Maret 2026, Rustian melaporkan kekayaan bersih sebesar Rp3,5 miliar tanpa utang. Aset tersebut meliputi tanah dan bangunan senilai Rp1.729.712.000, tiga kendaraan senilai Rp705 juta, harta bergerak lainnya Rp493 juta, serta kas dan setara kas Rp627.872.422. Properti yang dilaporkan terdiri atas empat bidang tanah dan rumah di Bogor, dan satu bidang tanah di Pekanbaru. Kendaraannya meliputi Mitsubishi Pajero Sport Dakar 2016 senilai Rp315 juta, Toyota Rush 2018 senilai Rp200 juta, dan Toyota Raize 2023 senilai Rp190 juta.