JAKARTA, AFU.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengenakan pakaian adat Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat menghadiri Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026). Pilihan busana tersebut langsung menjadi sorotan, terlebih NTT baru saja diguncang gempa kuat pada Sabtu (15/8/2026).
Pemilihan busana adat Rote itu menarik karena bukan sekadar pilihan estetika. Sejumlah pemberitaan hari ini mengaitkan pakaian tersebut dengan dukungan dan simpati terhadap masyarakat NTT setelah gempa. Namun, keterangan resmi mengenai busana Gibran sendiri lebih menekankan filosofi pakaian adat dan pesan keberagaman Indonesia.
Dalam keterangan Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Wakil Presiden, kain Lafa yang dikenakan Gibran dililitkan di pinggang sekaligus diselempangkan ke bahu. Kain tersebut dihiasi motif Hua Peni yang menggambarkan keluhuran dan keteraturan adat. Garis tegas berwarna merah marun yang mendominasi kain memiliki makna keberanian, semangat hidup, serta penghargaan kepada para leluhur. Sementara jas hitam yang dikenakan Gibran dipadukan dengan Topi Ti'i Langga, penutup kepala khas Rote yang dibuat dari daun lontar kering.
Ti'i Langga memiliki posisi penting dalam budaya Rote. Dalam simbolisme busana yang dikenakan Gibran, topi tersebut merepresentasikan keperkasaan, kehormatan, serta jiwa kepemimpinan. Yang menarik, pilihan Gibran datang hanya dua hari setelah gempa besar mengguncang NTT. Pada Sabtu (15/8/2026), gempa kuat mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur dan menimbulkan korban serta kerusakan di sejumlah daerah.
Karena itu, muncul tafsir bahwa pemilihan pakaian adat Rote pada momentum nasional tersebut dapat dibaca sebagai bentuk solidaritas pemerintah terhadap masyarakat NTT yang sedang menghadapi bencana. Meski demikian, penting untuk membedakan antara makna resmi busana dengan interpretasi politik dan sosial yang muncul dari pilihan tersebut.
Gibran tidak tampil sendirian. Dua anaknya, Jan Ethes Srinarendra dan La Lembah Manah, juga mengenakan busana adat yang serupa. Sementara istrinya, Selvi Ananda, menggunakan pakaian adat Ta'a Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Busana Selvi memiliki motif Kalong Aga. Motif tersebut dimaknai sebagai representasi kesederhanaan dalam jiwa yang berwibawa, kuat, percaya diri, sekaligus memiliki keterikatan dengan alam dan leluhur.
Jokowi dan Pilihan Baju Adatnya
Pemilihan pakaian Gibran juga mengingatkan publik pada tradisi yang dibangun Presiden ke-7 RI Joko Widodo dalam satu dekade terakhir. Jokowi dikenal konsisten mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah ketika menghadiri upacara HUT Kemerdekaan di Istana. Tradisi tersebut bahkan sudah terlihat sejak HUT ke-72 RI pada 2017. Saat itu Jokowi mengenakan pakaian adat Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Setahun kemudian ia memilih pakaian adat Aceh, kemudian pakaian adat Klungkung, Bali, pada 2019.
Pada 2022, Jokowi mengenakan baju Dolomani dari Buton, Sulawesi Tenggara. Saat itu, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengatakan pilihan tersebut merupakan pilihan Jokowi sendiri dan dinilai sesuai dengan tema HUT ke-77 RI, “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”. Setahun kemudian, pada HUT ke-78 RI 2023, Jokowi membuat pilihan yang jauh lebih simbolik. Ia mengenakan Ageman Songkok Singkepan Ageng, busana dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang biasa dikenakan para Raja Pakubuwono dalam acara Enggar Eggar soho Tedhak Loji.
Tradisi Tedhak Loji menggambarkan raja yang keluar dari keraton untuk melihat langsung kondisi masyarakat. Dalam tradisi itu, raja juga memberikan makanan dan uang kepada rakyat sebagai bentuk kasih kepada kawula. Karena itu, pilihan Jokowi pada 2023 sempat dibaca sebagai pesan simbolik mengenai hubungan pemimpin dengan rakyat. Bahkan busana tersebut secara luas diberitakan sebagai pakaian yang biasa digunakan para raja Surakarta.
Sekretariat Negara pada 2017 menjelaskan bahwa penggunaan busana adat dimaksudkan untuk menunjukkan keberagaman Indonesia sekaligus menegaskan bahwa berbagai suku dan budaya tetap berada dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kata lain, pakaian adat dalam upacara kenegaraan di era Jokowi bukan sekadar persoalan busana. Pilihan daerah, bentuk pakaian, warna, hingga aksesori dapat membawa pesan tertentu sesuai momentum. Pola tersebut kini terlihat kembali pada Gibran. Ketika ia memilih pakaian adat Rote pada HUT ke-81 RI, pilihan itu memiliki dua lapisan makna.
Secara resmi, busana tersebut merepresentasikan filosofi masyarakat Rote dan semangat keberagaman. Namun dalam konteks waktu, pilihan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari situasi NTT yang baru saja dilanda bencana. Pilihan Gibran sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi pakaian adat yang menjadi salah satu ciri khas perayaan HUT RI pada era Jokowi kini berlanjut di pemerintahan berikutnya. Bedanya, kali ini simbol yang hadir dari Istana adalah Rote, sebuah identitas budaya dari wilayah Indonesia timur yang sedang menjadi perhatian nasional akibat bencana. (EER)