JAKARTA, AFU.ID — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) menghantam industri garmen di berbagai daerah. Sejumlah perusahaan menghentikan operasional dan merumahkan ribuan pekerja akibat menurunnya pesanan dalam beberapa bulan terakhir. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, hasil inspeksi lapangan menunjukkan industri garmen nasional justru terpukul oleh penurunan permintaan dari pasar internasional.
Kondisi tersebut dipicu ketidakpastian ekonomi global yang membuat merek-merek fesyen dunia mengurangi pesanan ke pabrik di Indonesia. "Bukan karena daya beli masyarakat Indonesia menurun dalam kasus PHK di garmen. Bukan. Lebih kepada menurunnya daya beli masyarakat global," ujar Said Iqbal dalam konferensi pers daring, Kamis (6/8/2026).
Banyak pabrik garmen menutup usaha akibat multifaktor. Gempuran produk impor murah terutama dari China turut mengambil bagian penting. Ini menyebabkan penurunan permintaan pasar ekspor dan lokal yang lemah. Selain itu biaya operasional serta beban biaya energi, logistik, dan kenaikan upah pekerja menggerus profit margin pabrik padat karya.
Said Iqbal menjelaskan, perang berkepanjangan Rusia-Ukraina dan konflik Amerika Serikat-Iran ikut mendorong kenaikan harga energi dan biaya produksi global. Dampaknya, produk garmen dari berbagai negara menjadi semakin mahal sehingga permintaan dari konsumen dunia ikut melemah. Kondisi itu kemudian membuat sejumlah merek internasional, seperti Uniqlo, H&M, hingga Saint Laurent, mengurangi bahkan menghentikan pesanan kepada sejumlah pabrik di Indonesia.
Hasil pemetaan di lapangan menunjukkan beberapa perusahaan garmen besar telah menghentikan operasional, di antaranya PT Victory Apparel di Semarang, PT Samwon Busana Indonesia di Jepara, serta PT 66 di Cimahi. Di Kota Cimahi, PT Namnam Fashion Industries juga melakukan PHK terhadap 178 pekerja setelah perusahaan mengaku tidak lagi mampu menanggung biaya produksi dan berencana mengubah jenis usahanya. Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai industri garmen memang rentan berpindah lokasi produksi ketika biaya operasional di suatu daerah tidak lagi kompetitif.
Data pemerintah daerah juga memperlihatkan tekanan yang masih membayangi industri padat karya tersebut. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah mencatat sebanyak 6.604 pekerja terkena PHK hingga akhir Juli 2026, dengan sekitar 51,4 persen berasal dari sektor tekstil dan garmen. Perusahaan yang mencatat jumlah PHK terbesar antara lain PT Combine Will Industrial Indonesia, PT Citra Busana Semesta, PT Victory Apparel, PT Samwon Busana Indonesia, PT Sas Kreasindo Utama, dan PT Cosmoprof Indokarya.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh tersebut menambahkan, industri garmen Indonesia juga menghadapi persaingan ketat dari negara-negara produsen seperti Bangladesh, India, Sri Lanka, Vietnam, hingga Pakistan yang memiliki biaya produksi lebih rendah. Ia mengaku telah menyampaikan hasil pemetaan tersebut kepada Presiden Prabowo melalui Menteri Sekretaris Negara dan berharap pemerintah segera melakukan intervensi regulasi untuk menjaga daya saing industri. Menurutnya, apabila PHK tidak dapat dihindari, perusahaan tetap wajib memenuhi seluruh hak pekerja sesuai ketentuan yang berlaku. (RAI)