Isu penjualan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kepada pihak asing kembali muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan adanya rencana tersebut, namun Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menegaskan bahwa pemerintah saat ini lebih fokus pada penguatan perusahaan melalui kolaborasi dengan industri global untuk meningkatkan kemampuan dan teknologi. Prabowo juga melarang penjualan perusahaan-perusahaan pertahanan, termasuk PTDI, dan menegaskan komitmen untuk membangkitkan industri pertahanan nasional, sementara PTDI mulai mendapatkan minat dari pasar internasional, termasuk kontrak pengadaan pesawat N219 untuk kebutuhan dalam negeri dan luar negeri.
Ilustrasi - Pesawat N219 yang merupakan karya anak bangsa hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia dan LAPAN. (ANTARA/HO-Dok Humas PTDI)
JAKARTA, AFU.ID – Isu rencana penjualan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kepada pihak asing kembali mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut perusahaan tersebut sempat akan dilepas. Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan mengatakan arahan pemerintah saat ini justru berfokus pada penguatan perusahaan melalui kolaborasi dengan pemain industri global. Gita tidak menjelaskan secara terperinci mengenai rencana penjualan PTDI tersebut.
Ia hanya menyampaikan kebijakan yang kini dijalankan perusahaan mengacu pada arahan Prabowo untuk mengembangkan industri dirgantara nasional. “Bapak Presiden itu sangat mendukung pengembangan PTDI. Bapak Presiden tentunya menyarankan, karena pelaku global industri kedirgantaraan, aeronautika kan banyak, kita berkolaborasi, jadi kita membangun strategic collaboration. Itu arahan Bapak Presiden dan kita laksanakan,” kata Gita di Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Menurut Gita, kolaborasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan PTDI sekaligus memperkuat industri pertahanan nasional. Kerja sama dengan perusahaan global juga diarahkan agar Indonesia memperoleh manfaat dari setiap pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) udara. Skema yang dijalankan meliputi offset atau timbal balik industri dan industrial collaboration agreement.
Melalui skema itu, PTDI dapat memperoleh manfaat berupa kerja sama produksi, peningkatan kemampuan sumber daya manusia hingga penguasaan teknologi. “Arahan khususnya kan sebetulnya di banyak pengadaan alutsista udara, kita harus bisa mendapatkan benefit yang maksimal. Itu yang PTDI selalu kerjakan, baik melalui offset ataupun industrial collaboration agreement supaya mendapatkan manfaat yang maksimum bagi industri pertahanan kita,” ujarnya.
Prabowo Larang PTDI Dijual
Sebelumnya, Prabowo mengungkap adanya rencana penjualan sejumlah badan usaha milik negara kepada pihak asing. Perusahaan yang disebut mencakup PTDI, PT PAL Indonesia, dan PT Pindad. Prabowo mengatakan dirinya melarang rencana tersebut. Pemerintah kemudian memilih mempertahankan dan membangkitkan kembali perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri pertahanan nasional.
“Banyak sekali perusahaan yang seolah tadinya mau dijual, tadinya mau dijual ke asing. Saya larang! Tadinya industri pertahanan mau dijual! PT PAL mau dijual, PT Pindad mau dijual, PTDI dibunuh dan mau dijual. Kita bangkitkan! Sekarang kita akan bangkitkan semua perusahaan-perusahaan itu,” ujar Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan melalui YouTube Sekretariat Presiden. Di tengah upaya penguatan perusahaan, PTDI mulai menerima minat dari pasar internasional untuk pesawat N219.
Perusahaan telah mengantongi letter of intent dari Cina untuk 25 unit dan tengah menjajaki peluang penjualan ke Kongo. Meski membuka pasar internasional, Gita mengatakan PTDI masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Perusahaan telah memperoleh kontrak enam unit N219 untuk TNI Angkatan Darat yang ditargetkan mulai dikirim pada akhir 2026.
“Menurut kami, kebutuhan dalam negeri juga luar biasa. Ini kita prioritaskan. Alhamdulillah Menteri Pertahanan sudah [teken kontrak dengan] enam dengan Angkatan Darat. Insya Allah akhir tahun ini kita akan delivery,” tutur Gita. Selain kontrak untuk TNI Angkatan Darat, terdapat rencana pengadaan tiga unit N219 bagi Badan Keamanan Laut. PTDI juga telah memperoleh kontrak tiga unit pesawat tersebut untuk TNI Angkatan Laut. (FAD)