JAKARTA, AFU.ID — Turki membawa target besar dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Hakan Fidan ke Indonesia. Ankara ingin nilai jual-beli dengan Indonesia naik hingga 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp178,3 triliun.
Target itu jauh di atas nilai perdagangan kedua negara pada 2025 yang berada di atas 2,5 miliar dolar AS. Artinya, Turki ingin transaksi dengan Indonesia naik sekitar empat kali lipat dari posisi terakhir.
Fidan bertemu Menteri Luar Negeri Sugiono di Jakarta pada Rabu, (3/6/2026). Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya Turki memperluas kerja sama dengan Indonesia di kawasan Asia-Pasifik.
Agenda yang dibawa tidak hanya perdagangan. Turki juga ingin memperkuat kerja sama di sektor pertahanan, energi, transportasi, digitalisasi, kecerdasan buatan, teknologi tinggi, dan industri makanan halal.
Sektor pertahanan menjadi salah satu bagian yang diperhatikan. Fidan dijadwalkan meninjau proyek industri pertahanan yang sedang berjalan dan membuka peluang kerja sama baru.
Isu Gaza juga masuk dalam pembicaraan. Turki dan Indonesia disebut tetap menjaga komunikasi erat soal Palestina dan mendorong perdamaian yang adil serta berkelanjutan.
Kunjungan ini menunjukkan Indonesia tidak hanya dilihat sebagai mitra diplomatik. Dengan pasar besar, kebutuhan infrastruktur, dan posisi politik di dunia Muslim, Indonesia menjadi ruang penting bagi kepentingan ekonomi dan geopolitik Turki.
Hubungan Indonesia dan Turki semakin erat sejak kedua negara sepakat menjadi mitra strategis pada 2011. Untuk memperkuat kerja sama itu, pemerintah kedua negara rutin menggelar pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan menteri luar negeri dan menteri pertahanan guna membahas berbagai program bersama.
Target Rp178 triliun membuat kerja sama Indonesia dan Turki tidak cukup dibaca sebagai seremoni hubungan baik. Publik perlu melihat sektor mana yang akan dibuka, siapa yang paling diuntungkan, dan bagaimana kerja sama pertahanan serta proyek strategis itu dikawal. (RHU)