Penulis: Putri Nadhila · Reporter: Putri Nadhila
JAKARTA, AFU.ID — Meredanya ancaman eskalasi nuklir dan blokade laut di kawasan Timur Tengah kini menjadi penyelamat tak terduga bagi nilai tukar domestik dari tekanan hegemoni mata uang Amerika Serikat.
"Pasar menyambut positif peluang damai," kata Analis ICDX Muhammad Amru Syifa di Jakarta, Kamis (8/5/2026).
Katalis geopolitik tersebut secara analitis berhasil menarik laju rupiah naik 54 poin atau 0,31 persen hingga ditutup kokoh pada level Rp17.333 per dolar AS.
"Penurunan permintaan terhadap dolar AS," urai Amru menyoroti pergeseran aset safe haven global.
Momentum kebangkitan ini tereksekusi usai bocornya draf 14 poin perundingan utusan Donald Trump dan Iran guna melonggarkan krisis Selat Hormuz hingga pencabutan sanksi ekonomi.
"Meredakan tekanan terhadap nilai tukar," jelasnya melihat dampak langsung dari koreksi harga minyak dunia.
Guna merawat tren tersebut jelang rilis data Nonfarm Payrolls AS, Bank Indonesia langsung merapatkan barisan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing dan pembatasan pembelian dolar tanpa underlying.
"Rupiah masih memiliki peluang menguat," tegas Gubernur BI Perry Warjiyo yang menilai kurs saat ini masih undervalued.
Langkah pengetatan tersebut dikombinasikan dengan perluasan skema currency swap antarnegara, yang secara efektif turut mengunci pergerakan kurs JISDOR meroket ke posisi Rp17.362 per dolar AS.
"Faktor yang menopang penguatan rupiah," pungkas Amru mengapresiasi solidnya fundamental ekonomi dan inflasi nasional. (ANT/NAD).