MANGGARAI, AFU.ID - Penanganan dampak gempa bumi di Flores mulai diarahkan tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan darurat, tetapi juga pada agenda pemulihan jangka panjang. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat serta provinsi tetangga untuk memastikan masyarakat terdampak mendapat pendampingan hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Gempa yang mengguncang wilayah Flores tersebut telah menimbulkan dampak besar bagi masyarakat. Hingga Kamis (20/8/2026), sebanyak 75 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara sekitar 92.000 warga harus mengungsi akibat kerusakan dan kondisi yang belum memungkinkan mereka kembali ke rumah.
Besarnya dampak bencana membuat penanganan tidak cukup hanya dilakukan pada masa tanggap darurat. Kebutuhan warga yang kehilangan tempat tinggal, kerusakan fasilitas umum serta pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat membutuhkan dukungan lintas daerah dan pemerintah pusat.
Penguatan koordinasi itu ditandai dengan kunjungan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Gubernur Bali I Wayan Koster dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal ke sejumlah lokasi terdampak gempa di Flores, Kamis (20/8/2026).
Kehadiran tiga gubernur tersebut menunjukkan solidaritas antardaerah dalam menghadapi bencana. Dukungan Bali dan NTB sebelumnya telah diberikan dalam bentuk bantuan dana, tenaga kesehatan hingga logistik bagi masyarakat yang terdampak.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan apresiasi atas respons cepat Pemerintah Provinsi Bali dan NTB dalam membantu penanganan bencana di Flores.
“Atas nama rekan-rekan bupati dan seluruh masyarakat di Flores, kami menyampaikan terima kasih kepada Pak Gubernur Bali dan Pak Gubernur NTB yang sudah secara cepat memberikan dukungan, baik berupa dana, tenaga kesehatan maupun barang-barang,” kata Melki di Kantor BPBD Kabupaten Manggarai Barat.
Menurut Melki, pekerjaan pemerintah tidak berhenti ketika masa tanggap darurat selesai. Kerusakan rumah warga, kantor pemerintahan, rumah ibadah dan fasilitas publik lainnya membutuhkan penanganan lanjutan yang terencana.
“Urusan penanganan gempa Flores ini tanggap darurat memang kita lakukan sekarang, tetapi yang nanti pasti akan panjang adalah rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai dukungan lintas provinsi menjadi penting agar pemulihan Flores dapat dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah NTT juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, pemerintah pusat, TNI-Polri serta berbagai lembaga terkait.
“Kita berharap kita selalu bersama ke depan, dalam suka maupun duka, di NTT, NTB dan Bali,” kata Melki.
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah daerah juga mendapat dukungan dari Kementerian PPN/Bappenas melalui Andriko Noto Susanto. Kehadiran unsur Bappenas dinilai penting untuk menghubungkan penanganan pascabencana dengan perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Melki mengapresiasi keterlibatan Andriko yang pernah menjabat sebagai Penjabat Gubernur NTT. Menurut dia, pengalaman tersebut membuat Andriko memiliki pemahaman mengenai karakteristik dan tantangan pembangunan di wilayah NTT, termasuk Flores.
“Terima kasih juga kepada Pak Andriko Noto Susanto dari Bappenas yang terus mendukung kami. Beliau sendiri pernah menjadi Pj. Gubernur, sehingga tentu memahami bagaimana tantangan mengurus daerah Flores,” ujar Melki.
Setelah meninjau penanganan bencana di wilayah Manggarai Barat, rombongan tiga gubernur kemudian bergerak menuju Posko Dampek, Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Mereka berdialog dengan penyintas sekaligus melihat langsung kondisi pelayanan dan kebutuhan masyarakat di lokasi tersebut.
Bagi Pemerintah NTT, solidaritas Bali dan NTB menjadi bagian penting dari upaya mempercepat pemulihan Flores. Sinergi antardaerah diharapkan tidak hanya membantu masyarakat melewati masa darurat, tetapi juga menjadi kekuatan untuk membangun kembali. (RHU)