JAKARTA, AFU.ID — Sampah masih ditemukan berserakan di tengah ramainya kegiatan car free day atau CFD di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (2/8/26). Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Muda Transparansi turun langsung menyusuri jalan dan memunguti sampah tersebut. Mereka juga menyediakan kantong sampah bagi warga yang sedang berolahraga maupun berjalan kaki.
Aksi dimulai sekitar pukul 07.30 WIB dengan mengelilingi kawasan Bundaran HI. Para mahasiswa membawa tempat sampah berukuran besar, kantong plastik, dan spanduk berisi ajakan menjaga kebersihan Jakarta. Sampah yang ditemukan di sepanjang rute kemudian dikumpulkan dan dipisahkan berdasarkan jenisnya.
Sampah plastik menjadi jenis yang paling banyak ditemukan selama kegiatan berlangsung. Para mahasiswa juga mendatangi warga dan menyodorkan kantong apabila mereka hendak membuang sampah. Aksi tersebut dilakukan bersamaan dengan kampanye pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
“Sekalian kita publikasikan kepada masyarakat bagaimana cara memilah sampah dari rumah, baik organik, anorganik,” kata Ketua Umum Mahasiswa Muda Transparansi Abid Zahid Fadhillah. Menurut Abid, CFD dipilih karena dipadati warga dari berbagai kalangan sehingga kampanye dapat disampaikan secara langsung. Organisasinya baru pertama kali mengadakan aksi serupa di kawasan tersebut.
Mahasiswa membawa spanduk bertuliskan “Jakarta Bersih Bukan Mimpi, tapi Komitmen dan Aksi Nyata Bersama”. Spanduk lainnya mengingatkan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama dan dapat dimulai dari kebiasaan masing-masing warga. Pesan tersebut ditunjukkan kepada pengunjung selama peserta berjalan mengelilingi Bundaran HI.
Abid mengatakan aksi tersebut juga mendukung Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Aturan itu ditetapkan pada 30 April 2026 dan masih berstatus berlaku. Instruksi tersebut menggantikan kebijakan pemilahan sampah yang sebelumnya diterbitkan pada 2019.
Dalam aturan tersebut, sampah dibagi menjadi empat kelompok, yakni organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun, serta residu. Sampah organik diarahkan untuk diolah melalui pengomposan, maggot, atau biodigester, sedangkan sampah anorganik dapat disalurkan ke bank sampah. Limbah berbahaya harus dibawa ke fasilitas khusus, sementara residu diproses melalui fasilitas pengolahan lanjutan.
Abid berharap warga tidak hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mulai memisahkannya sebelum diserahkan kepada petugas. Menurutnya, pemilahan dari rumah dapat mempermudah proses pengolahan dan mengurangi sampah yang langsung dikirim ke Bantargebang. Ia juga meminta warga meneruskan kebiasaan tersebut kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
TPST Bantargebang saat ini menerima sekitar 8.000 ton sampah dari Jakarta setiap hari. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut sekitar 57 persen sampah tersebut berasal dari rumah tangga, sedangkan 43 persen lainnya berasal dari kawasan. Pemerintah mendorong pengolahan sampah dilakukan sejak dari sumber agar hanya sampah residu yang berakhir di Bantargebang. (RHU)