Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Lima Hari TPA Galuga Terbakar, Pemkot Bogor Usul Hujan Buatan
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, telah berlangsung selama empat hari sejak 7 September 2026, dengan titik api masih muncul dari dalam timbunan sampah yang sulit dipadamkan. Pemerintah Kota Bogor mengusulkan modifikasi cuaca untuk memicu hujan guna membantu pemadaman, sementara upaya penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan TNI AU menggunakan teknik water bombing dan alat berat untuk membuka timbunan. Luas area terdampak kebakaran terus meningkat menjadi sekitar 7,1 hektare, dengan petugas berusaha menemukan dan mendinginkan bara yang tersembunyi di dalam sampah.
Kobaran api membakar kawasan TPA Galuga di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/9/2026). ANTARA/M Fikri Setiawan.
JAKARTA, AFU.ID — Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, masih berlangsung sejak api muncul pada Senin, 7 September 2026. Titik api masih muncul dari bagian dalam timbunan sampah sehingga petugas harus membongkar gundukan untuk menemukan bara yang tersembunyi. Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kota Bogor mengusulkan modifikasi cuaca agar hujan turun dan membantu mempercepat pemadaman.
Penanganan kebakaran dilakukan dengan sejumlah metode secara bersamaan. Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor berkoordinasi dengan TNI AU di Lanud Atang Sanjaya untuk menjalankan water bombing. Selain itu, penanganan juga dilakukan dengan menggunakan alat berat untuk membuka timbunan, melakukan kanalisasi, dan pemadaman konvensional. “Jadi memang segala cara kita harus upayakan,” kata Wali Kota Bogor Dedie A Rachim di TPA Galuga, Jumat (11/9/2026).
Proses pemadaman menjadi sulit karena bara dapat bertahan di bagian dalam timbunan sampah meski api tidak selalu terlihat dari permukaan. Kondisi cuaca juga ikut memengaruhi penyebaran api, terutama ketika angin kencang membuat kobaran lebih cepat merambat ke bagian lain. Menurut Dedie, timbunan sampah lama yang memiliki karakter seperti briket sangat mudah terbakar.
Luas area terdampak kebakaran sebelumnya dilaporkan terus bertambah dari 1,7 hektare menjadi sekitar 7,1 hektare. Asap masih terlihat mengepul dari sejumlah gundukan meski kobaran tidak selalu tampak, menandakan adanya bara yang belum sepenuhnya padam. Petugas pun membongkar timbunan satu per satu untuk menemukan sumber bara, lalu mendinginkannya dengan penyemprotan air.
Jika hujan alami belum turun dalam beberapa hari ke depan, Pemkot Bogor akan mengajukan modifikasi cuaca kepada pemerintah pusat. Upaya tersebut disiapkan sebagai tambahan dari pemadaman darat dan water bombing yang masih dilakukan di lokasi. (RAI)