JAKARTA, AFU.ID —Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sungai Rambutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, meluas hingga mengancam permukiman warga pada Minggu (26/7/2026). Sedikitnya 10 hektare lahan semak belukar, akasia, dan gelam hangus terbakar setelah api merambat dengan cepat akibat kondisi vegetasi yang kering dan tiupan angin. Tim gabungan akhirnya berhasil memadamkan kobaran api pada pukul 22.30 WIB setelah melakukan operasi pemadaman selama berjam-jam.
Kebakaran pertama kali dilaporkan muncul di sekitar pintu keluar Tol Palembang-Indralaya sebelum menyebar ke berbagai arah. Api kemudian merambat hingga ke tepi jalan tol dan mendekati kawasan permukiman, sehingga memicu kepanikan warga. Sejumlah warga sempat berupaya memadamkan api menggunakan peralatan seadanya, namun kobaran terus membesar dan sulit dikendalikan.
Tim gabungan mengerahkan upaya pemadaman melalui jalur darat dan udara dengan bantuan water bombing untuk mencegah api memasuki kawasan permukiman. Prioritas pemadaman difokuskan di sekitar rumah-rumah penduduk mengingat kobaran api sudah berada di sisi belakang dan samping permukiman. Setelah berjibaku menghadapi medan yang sulit dan embusan angin kencang, petugas memastikan tidak ada lagi titik api di lokasi saat operasi dihentikan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan kebakaran di Ogan Ilir adalah insiden karhutla paling parah yang terjadi di Sumatera Selatan sepanjang tahun ini. Menurutnya, api kali ini berada sangat dekat dengan permukiman warga sehingga berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat. "Untuk penyebab kebakaran perlu digali lebih lanjut, apakah ada faktor kesengajaan atau ketidaksengajaan, apakah membakar sampah atau apa, ini yang belum jelas," katanya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, kebakaran lahan juga terjadi di Desa Ibul Besar I, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir. Peristiwa tersebut menghanguskan sekitar lima hektare lahan, sehingga menambah luas area yang terdampak karhutla di wilayah tersebut. Munculnya beberapa titik api menunjukkan ancaman kebakaran kembali meningkat seiring cuaca panas dan kondisi lahan yang semakin kering.
Ferdian menjelaskan, beberapa hari sebelumnya titik api di Sumatera Selatan sempat berkurang setelah wilayah tersebut diguyur hujan. Namun, kondisi cuaca yang kembali terik membuat vegetasi mengering sehingga kebakaran kembali bermunculan di sejumlah daerah. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan maupun membakar sampah selama musim kemarau serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar kebakaran tidak meluas. (RAI)