Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Halaman Gedung Sate Baru Diberi Nama Pasanggrahan Pancarasa
Bagikan:
Penulis: Muhammad Fakhruddin · Reporter: ANTARA/Ricky Prayoga
Ringkasan Berita
Halaman Gedung Sate di Bandung yang baru dipugar kini resmi dinamai Pasanggrahan Pancarasa, mencerminkan makna filosofis lima indra manusia yang harus berfungsi secara ikhlas, seperti yang diungkapkan oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Pembenahan fasilitas publik ini diharapkan tidak hanya melibatkan perbaikan mentalitas pejabat, tetapi juga kesadaran disiplin masyarakat dalam menjaga lingkungan, mengingat temuan sampah yang menyumbat saluran air di kota. Proyek revitalisasi yang menghabiskan biaya Rp15 miliar ini juga menciptakan integrasi antara Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, dengan beberapa perubahan lokasi prasasti dan dampak terhadap vegetasi di sekitarnya.
Halaman Gedung Sate Bandung yang kini bernama Pasanggrahan Pancarasa, dilihat dari arah Gedung Utama Gedung Sate Bandung, Senin (17/8/2026).
BANDUNG, AFU.ID - Halaman Gedung Sate yang baru selesai dipugar dan disatukan dengan Lapangan Gasibu, diberi nama Pasanggrahan Pancarasa. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merinci bahwa nama Pancarasa memiliki makna filosofis lima indra manusia yang harus difungsikan secara ikhlas, yakni mata melihat, telinga mendengar, hidung menghirup, lidah berucap, dan hati yang ikhlas.
Kendati fasilitas publik tersebut dibuka bebas untuk warga, KDM menegaskan bahwa pembenahan daerah tidak hanya bergantung pada mentalitas pejabat birokrasi, tetapi juga memerlukan kesadaran disiplin dari masyarakat itu sendiri. "Pasanggrahan itu tempat berkumpul. Ini resmi dibuka untuk masyarakat per hari ini," ujar Dedi Mulyadi di Gedung Sate Bandung, Senin (17/8/2026).
Karenanya, dia juga menyerukan pembenahan mentalitas masyarakat dalam menjaga lingkungan, di manapun di seluruh Jabar. Dedi membeberkan temuan mencengangkan timnya yang baru saja mengeruk endapan tumpukan sampah berusia puluhan tahun yang menyumbat saluran air di pusat Kota Bandung. "Yang harus diperbaiki itu bukan hanya mentalitas pejabat, rakyat juga harus diperbaiki. Ini problem yang harus kita merdekakan," tutur Dedi menambahkan.
Diketahui, penataan Gedung Sate Bandung dilaksanakan mulai pertengahan April 2026 dan selesai di pertengahan Agustus 2026 ini, dengan membuat halaman Gedung Sate bersatu dengan Lapangan Gasibu di depannya. Proyek yang menelan biaya hingga Rp15 miliar ini, membuat Jalan Diponegoro menjadi satu dengan Gedung Sate dan Gasibu, sementara Pemprov juga membuat jalan baru yang mengelilingi Lapangan Gasibu dan tak sedikit pohon yang terdampak karenanya.
Sementara itu di area halaman Gedung Sate, proyek revitalisasi itu berdampak pada Prasasti Sapta Taruna yang menjadi simbol Hari Bakti Pekerjaan Umum (PU) digeser dari posisi awalnya tepat di tengah halaman depan Gedung Sate, ke bagian belakang Gedung Sate dekat parkiran di sekitar pintu masuk Museum Gedung Sate.