JAKARTA, AFU.ID — Ancaman defisit pasokan bahan pangan ekstrem hingga lonjakan inflasi kini membayangi wilayah Provinsi Papua Tengah.
Hal tersebut gegara implikasi langsung dari masifnya operasional program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Sudah mulai terjadi kelangkaan,” cemas Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Papua Tengah, Nalen Situmorang di Nabire, Selasa (5/5/2026).
Ironi krisis suplai tersebut berbenturan langsung dengan manuver percepatan gizi pemerintah yang baru memulihkan 28 dari total 33 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Fasilitas tersebut sangat krusial untuk menyuplai nutrisi harian pelajar dan kelompok 3B yang mencakup ibu menyusui, ibu hamil, serta balita.
“Jangan sampai memicu inflasi,” ungkap Nalen Situmorang, meratapi kerentanan ekonomi di daerahnya.
Lonjakan beban logistik tersebut meledak usai enam SPPG, lima di Nabire dan satu di Mimika, terpaksa beroperasi kembali sejak 4 April 2026 lalu untuk mengakhiri suspensi 11 fasilitas sebelumnya.
Secara akumulatif, peta penopang pendistribusian gizi kini berada di 14 unit Nabire, 1 unit di Deiyai, dan 18 unit di Mimika.
“Masih dalam proses pembenahan,” tutur Nalen Situmorang, menyoroti sisa lima dapur di Mimika yang hingga kini masih lumpuh.
Di tengah guncangan defisit pasokan di Nabire, BGN justru tetap merancang ekspansi radikal untuk membangun SPPG di lima kabupaten baru sekaligus menambah armada di Deiyai.
Rencana agresif yang menyasar mayoritas wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tersebut mutlak membutuhkan intervensi logistik dan tata ruang yang terpadu.
“Memperkuat kolaborasi guna menyukseskan program,” harap Nalen Situmorang yang menuntut sinergi mutlak dari pemerintah daerah setempat. (ADR/NAD)