Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Ciangir Jadi Kawasan Terintegrasi Topang Ketahanan Pangan Jakarta
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Kawasan Ciangir di Kabupaten Tangerang, Banten, dikembangkan sebagai pusat ketahanan pangan terintegrasi untuk DKI Jakarta, mencakup peternakan, perikanan, dan pertanian dalam satu ekosistem yang efisien dan berkelanjutan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa proyek ini bertujuan mengurangi ketergantungan pangan dari luar daerah dan memberdayakan warga lokal, dengan lahan seluas hampir 100 hektare yang akan dikelola oleh Perumda Dharma Jaya. Pengembangan ini diharapkan dapat menciptakan ekonomi sirkular yang mendukung kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan ibu kota.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyaksikan papan informasi di Kawasan Peternakan Terintegrasi di Ciangir, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, yang menjadi pendukung ketahanan pangan. (Foto: Pemprov DKI Jakarta)
JAKARTA, AFU.ID — Ketahanan pangan di Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta terus mengalami penguatan melalui pengembangan kawasan terpadu yang mengintegrasikan peternakan, perikanan, dan pertanian dalam satu ekosistem. Langkah itu menjadi strategi memperkuat pasokan pangan ibu kota di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Pengembangan kawasan terintegrasi juga mengarah untuk menciptakan rantai pasok pangan yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyatakan pengembangan kawasan Ciangir di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, menjadi salah satu program strategis untuk memperkuat Ketahanan Pangan Jakarta. Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Dharma Jaya bertindak sebagai pengelola kawasan yang menjadi pusat peternakan terintegrasi dengan memadukan peternakan sapi, ayam, budidaya perikanan, dan hortikultura dalam satu kawasan. Program turut mendapat dukungan melalui berbagai inisiatif, seperti contract farming, urban farming, dan pengembangan kawasan pangan terpadu.
Sebagai informasi, Kawasan Ciangir mempunyai luas hampir 100 hektare yang terbagi ke dalam beberapa fungsi strategis. Sekitar 40 hektare dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta untuk pengolahan organik dan budidaya maggot. Kemudian Perumda Dharma Jaya mengembangkan 20 hektare untuk keperluan pertanian dan peternakan yang terintegrasi. Sebagian lahan lainnya merupakan aset Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang telah menjadi kontribusi kepada Kementerian Hukum Republik Indonesia (Kemenkum RI) dan Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) RI.
“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Gubernur Banten atas koordinasi serta kerja sama yang baik untuk mengembangkan kawasan ini sebagai pusat ketahanan pangan Jakarta. Di sini, kita akan kembangkan peternakan sapi, ayam, perikanan, hingga pertanian seperti jagung, padi, dan komoditas lainnya,” ungkap Pramono Anung. Ia sendiri telah meninjau Pusat Olah Organik DLH Provinsi DKI Jakarta di Ciangir, Banten, Jumat (31/7/2026).
Gubernur Pramono lantas memastikan Kawasan Ciangir tak akan menjadi lokasi pembuangan sampah maupun alternatif Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Pemprov DKI Jakarta hanya memanfaatkan pupuk hasil Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) untuk mendukung produktivitas lahan, sehingga fungsi kawasan tetap berorientasi pada penguatan sektor pangan. Kepastian itu pun sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat terkait pemanfaatan aset Pemprov DKI Jakarta di Provinsi Banten.
Peternakan Terintegrasi Topang Ketahanan Pangan Jakarta
Lahan Kawasan Ciangir seluas 20 hektare yang akan Perumda Dharma Jaya kembangkan telah memeroleh Persetujuan Penggunaan Barang Milik Daerah, Senin (23/6/2026) lalu. Sekitar 17 haktare di antaranya akan menampung 5.000 ekor sapi beserta fasilitas pendukung, seperti kandang karantina, kandang penggemukan, gudang pakan, kantor operasional, jembatan timbang, dan instalasi pengolahan air limbah. Sementara itu, tiga hektare sisanya akan berfungsi sebagai ruang penghijauan.
Narasi pengembangan Kawasan Ciangir bahkan tak berhenti pada peningkatan produksi ternak semata. Pemprov DKI Jakarta juga merancang sistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir yang mencakup penyediaan pakan mandiri berbasis teknologi, rumah potong hewan, fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), hingga pengolahan daging (meat processing) dalam satu kawasan. Pramono Anung berharap, integrasi itu dapat meningkatkan efisiensi pendistribusian dan memberikan nilai tambah bagi industri peternakan.
“Saya sudah menyampaikan kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian, serta Direktur Utama Dharma Jaya agar semaksimal mungkin memberdayakan warga lokal,” tutur Gubernur DKI Jakarta.
Sementara itu, Andra Soni selaku Gubernur Banten menyatakan kolaborasi antardaerah tersebut akan memberikan manfaat bagi kedua provinsi. Hal itu karena akan memperkuat hubungan ekonomi dan mendukung kebutuhan pangan masyarakat. Keterlibatan tenaga kerja lokal, kemitraan penyediaan hijauan pakan ternak, dan pemberdayaan pelaku usaha sekitar diproyeksikan menciptakan ekonomi sirkular yang memperkuat ketahanan pangan Jakarta sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (ADR)