AFU.id

Setelah Koperasi dan Kampung Nelayan, Terbitlah Aspal Merah Putih

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum memperkenalkan Aspal Merah Putih, inovasi aspal yang terbuat dari campuran aspal alam Pulau Buton dan aspal minyak Pertamina, yang dijadwalkan diluncurkan resmi pada 17 Agustus 2026. Produk ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada aspal impor, meningkatkan efisiensi pembangunan infrastruktur, serta memberikan dukungan pada industri lokal dengan potensi penghematan devisa hingga Rp4 triliun per tahun. Menteri PU Dody Hanggodo menekankan pentingnya kolaborasi dari Badan Usaha Jalan Tol dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan implementasi yang tidak menambah beban biaya bagi masyarakat.

Setelah Koperasi dan Kampung Nelayan, Terbitlah Aspal Merah Putih
Ilustrasi jalan tol yang menggunakan Asbuton kadar bitumen tinggi dan menjadi bahan dasar untuk inovasi produk baru dari Kementerian PU RI, yaitu Aspal Merah Putih A30 dan A100. (Foto: Kementerian PU RI)

Aspal Merah Putih Dukung Pengembangan Ekosistem Jalan Tol

Dody Hanggodo menyatakan, penggunaan Asbuton ini tak boleh menambah beban biaya bagi BUJT maupun masyarakat. Efisiensi biaya menjadi hal yang harus terjaga dalam penerapan kebijakan tersebut agar tak berdampak pada tarif maupun pembiayaan pembangunan. Ia menargetkan Aspal Merah Putih A30 maupun A100 sama dengan harga aspal saat ini atau bahkan lebih murah. “Kalau lebih tinggi, saya berharap teman-teman BUJT dan ATI (Asosiasi Jalan Tol Indonesia, red) wajib menolak karena berdampak pada tarif tol yang saya sendiri tidak mau menaikkan,” ujarnya.

Menteri Dody juga mengingatkan pengembangan ekosistem jalan tol perlu mendapat dukungan kepastian hukum dan iklim investasi yang baik. Saat ini, total panjang jalan tol yang beroperasi di Indonesia mencapai 3.128,30 kilometer (km). BUJT sendiri mengelola sebanyak 76 ruas dengan total nilai investasi kurang lebih Rp779 triliun. Jaringan itu berperan dalam memperkuat akses menuju kawasan industri, pelabuhan, bandara, kawasan ekonomi khusus, kawasan wisata, dan pusat ekonomi lainnya.

Oleh karenanya, kendaraan over dimension over load (ODOL) menjadi tantangan besar dalam menjaga kualitas. Pasalnya, ODOL mempercepat penurunan struktur jalan dari umur rencana, meningkatkan kebutuhan pemeliharaan dan rekonstruksi, serta berdampak terhadap keselamatan dan kelancaran logistik nasional. Kementerian PU RI pun memasang sebanyak 47 unit Weigh in Motion (WIM) di jalan tol Indonesia untuk mendukung pengawasan ODOL.

Dody Hanggodo lantas menekankan, jalan tol harus berorientasi pada konektivitas antarwilayah demi mempertemukan pusat produksi, pasar, investasi, dan lapangan kerja. Hal itu sejalan dengan target PU608 yang meningkatkan efisiensi investasi melalui Incremental Capital Output Ratio (ICOR) di bawah angka 6. Lalu di lain sisi, berkontribusi terhadap pengentasan kemiskinan menuju 0% dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8%. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi