JAKARTA, AFU.ID — Pengangguran Indonesia kembali menjadi perhatian setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis kondisi ketenagakerjaan terbaru per Mei 2026. Dari sekitar 7,22 juta orang yang masih menganggur, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi kelompok dengan porsi penganggur terbesar. Namun, jika dilihat berdasarkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada masing-masing jenjang pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) justru menempati posisi tertinggi.
Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan terakhir masih berkaitan erat dengan peluang seseorang terserap ke pasar kerja. BPS mencatat sebanyak 28 persen dari seluruh penganggur di Indonesia pada Mei 2026 merupakan lulusan SMA. Posisi kedua ditempati lulusan SMK dengan porsi 22,39 persen.
Setelah SMA dan SMK, pengangguran lulusan SD ke bawah menyumbang 17,18 persen dari total pengangguran nasional. Lulusan SMP berada di posisi berikutnya dengan porsi 15,65 persen. Sementara lulusan D4, S1, S2 hingga S3 menyumbang 14,31 persen dan lulusan D1 hingga D3 sebesar 2,48 persen.
Dengan demikian, jika pertanyaannya adalah lulusan apa yang jumlah penganggurnya paling banyak di Indonesia pada 2026, jawabannya adalah lulusan SMA. Namun, angka tersebut merupakan distribusi dari seluruh pengangguran nasional dan berbeda dengan ukuran TPT yang menunjukkan persentase penganggur dibandingkan jumlah angkatan kerja pada jenjang pendidikan yang sama.
BPS mencatat jumlah pengangguran Indonesia pada Mei 2026 mencapai sekitar 7,22 juta orang. Jumlah tersebut turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026, sementara TPT nasional turun dari 4,68 persen menjadi 4,65 persen. Pada periode yang sama, jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang.
“Angkatan kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja menjadi pengangguran yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24.000 orang dibandingkan bulan Februari tahun 2026,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud, Rabu (5/8/2026).
Meski lulusan SMA mendominasi jika dihitung berdasarkan jumlah atau porsi penganggur, lulusan SMK menjadi kelompok dengan TPT tertinggi. TPT lulusan SMK pada Mei 2026 tercatat sebesar 7,68 persen. Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja berlatar pendidikan SMK, sekitar delapan orang masih belum memperoleh pekerjaan.
TPT lulusan SMK tersebut masih lebih tinggi dibandingkan lulusan SMA yang mencapai 6,17 persen. Kelompok lulusan D4, S1, S2 dan S3 berada sedikit di bawahnya dengan TPT sebesar 6,09 persen. Selanjutnya, TPT lulusan D1 hingga D3 tercatat 4,75 persen, SMP 4,16 persen dan SD ke bawah 2,31 persen.
Data itu membuat istilah “lulusan paling banyak menganggur” perlu dibaca dengan hati-hati. Secara jumlah, lulusan SMA merupakan kelompok penganggur terbesar. Namun secara peluang menganggur dibandingkan angkatan kerja pada jenjang pendidikan yang sama, SMK menjadi yang tertinggi.
Tingginya pengangguran lulusan SMK menjadi perhatian karena jenjang pendidikan tersebut dirancang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai persoalannya tidak hanya terletak pada jumlah lapangan pekerjaan, tetapi juga ketidaksesuaian antara kompetensi yang dihasilkan pendidikan vokasi dan kebutuhan industri.
Menurut Yusuf, struktur pasar kerja Indonesia juga masih banyak ditopang sektor informal dan pekerjaan berproduktivitas relatif rendah yang tidak selalu membutuhkan keterampilan khusus. Kondisi tersebut dapat membuat lulusan pendidikan vokasi menghadapi persaingan berbeda dibandingkan tenaga kerja dengan pendidikan lebih rendah. Di saat yang sama, perubahan teknologi dan kebutuhan industri membuat kompetensi lulusan perlu terus disesuaikan.
Sorotan juga tertuju kepada lulusan pendidikan tinggi. BPS mencatat sekitar 1,03 juta penganggur pada Mei 2026 merupakan lulusan D4, S1, S2 hingga S3. Jumlah tersebut setara dengan 14,31 persen dari total pengangguran di Indonesia.
“Dan juga sebanyak 1,03 juta orang atau sekitar 14,31 persen berpendidikan D4, S1, S2, S3,” ujar Edy. Sementara penganggur lulusan D1 hingga D3 tercatat sekitar 180 ribu orang atau 2,48 persen.
Di sisi lain, lulusan SD ke bawah justru memiliki TPT terendah sebesar 2,31 persen. Namun, rendahnya tingkat pengangguran pada kelompok tersebut tidak otomatis berarti mereka memiliki pekerjaan dengan kualitas atau pendapatan lebih baik. Struktur pekerja Indonesia sendiri masih didominasi lulusan SD ke bawah dengan jumlah sekitar 52,46 juta orang atau 35,40 persen dari seluruh penduduk yang bekerja.
BPS mencatat dari total 148,19 juta orang yang bekerja pada Mei 2026, lulusan SMA mencakup 20,72 persen dan lulusan SMP 17,58 persen. Pekerja lulusan SMK mencapai 13,12 persen, sedangkan lulusan D4 hingga S3 sebesar 10,75 persen. Lulusan D1 hingga D3 memiliki porsi sekitar 2,42 persen dari seluruh penduduk bekerja.
Data ketenagakerjaan tersebut memperlihatkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan belum otomatis menjamin seseorang langsung memperoleh pekerjaan. Pada saat yang sama, jenis pendidikan juga memengaruhi bagaimana seseorang bersaing di pasar kerja dan jenis pekerjaan yang tersedia bagi mereka.
Jadi, berdasarkan data terbaru BPS Mei 2026, lulusan SMA menjadi kelompok dengan jumlah penganggur terbesar dengan porsi 28 persen dari seluruh pengangguran Indonesia. Sementara itu, lulusan SMK memiliki tingkat pengangguran tertinggi sebesar 7,68 persen, disusul SMA 6,17 persen dan lulusan D4 hingga S3 sebesar 6,09 persen. (RHU)