JAKARTA, AFU.ID — Kapal induk pertama Indonesia, ITS Giuseppe Garibaldi, resmi memulai pelayarannya dari Italia menuju Tanah Air pada Senin, (24/8/2026) malam waktu Italia. Kapal perang eks Angkatan Laut Italia yang diperoleh melalui skema hibah antarpemerintah ini dijadwalkan tiba di Indonesia pada pertengahan September 2026, sebelum nantinya secara resmi berganti nama menjadi KRI Gajah Mada dan dikukuhkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada 25 September 2026 mendatang.
Pelayaran kapal induk tersebut melintasi jalur Terusan Suez, Laut Merah, hingga Laut Arab mendapat pengawalan ketat dari kapal-kapal fregat Angkatan Laut Italia demi menjamin keamanan rute perjalanan. Setibanya di perairan nasional, KRI Gajah Mada akan disambut serta dikawal minimal oleh dua unit kapal fregat TNI AL dan armada udara Puspenerbal.
Kapal berbobot mati belasan ribu ton ini dijadwalkan tampil secara perdana dalam atraksi sailing pass pada peringatan HUT ke-81 TNI pada Oktober 2026. Kapal ini sekaligus juga mengemban fungsi ganda sebagai kapal komando, platform operasi kemanusiaan, hingga kapal penjelajah VVIP.
KRI Gajah Mada disokong oleh empat sistem mesin turbin gas CODAG Fiat-General Electric berdaya 81.000 horsepower. Pada kecepatan jelajah normal 20 knot, kapal ini mengonsumsi puluhan ton bahan bakar minyak (BBM) per hari.
Jika dikalkulasikan dengan harga avtur dan BBM militer standar internasional, biaya konsumsi bahan bakar KRI Gajah Mada diperkirakan menembus angka Rp1,2 miliar hingga Rp1,8 miliar per hari hanya untuk pergerakan dasar kapal. Dalam satu bulan pelayaran operasional penuh, pengeluaran bahan bakar saja dapat menyedot anggaran hingga Rp45 miliar, atau menembus Rp500 miliar per tahun.
Tantangan biaya tak berhenti pada bahan bakar. Sebagai kapal induk amfibi, KRI Gajah Mada mengoperasikan ratusan personel kru kapal dan kru penerbang lintas angkatan—termasuk integrasi helikopter TNI AL, TNI AD, dan TNI AU. Biaya logistik harian untuk konsumsi makanan, perawatan sanitasi, hingga tunjangan layar bagi sekitar 550 hingga 800 personel di atas kapal diperkirakan menelan biaya tak kurang dari Rp150 juta per hari atau sekitar Rp4,5 miliar per bulan.
Dari sisi persenjataan dan pemeliharaan (maintenance), sistem pertahanan kapal yang mengandalkan rudal Aspide, CIWS Oto Melara Kembar 40L70 DARDO, serta sistem penangkal torpedo SLQ-25 Nixie memerlukan pembaruan kalibrasi dan overhaul berkala yang membutuhkan suku cadang impor dari Eropa. Biaya pemeliharaan rutin (docking, perawatan lambung, perbaikan radar, dan pengujian sistem senjata) untuk kapal induk sekelas Garibaldi diperkirakan mencapai 8 hingga 10 persen dari total nilai aset kapal per tahun, atau berkisar antara Rp300 miliar hingga Rp500 miliar rupiah per tahun.
Jika digabungkan secara keseluruhan—mulai dari BBM, logistik personel, suku cadang, hingga amunisi latihan—total biaya operasional dan perawatan (O&M) KRI Gajah Mada diperkirakan mencapai Rp2,5 miliar hingga Rp3,5 miliar per hari, atau berkisar antara Rp1 triliun hingga Rp1,3 triliun per tahun.
Anggaran jumbo pemeliharaan kapal induk ini sempat menjadi pertanyaan anggota Komisi I dari Fraksi PDI-P, TB Hasanuddin. Ini untuk kementerian keuangan, saya mohon apakah ini tidak membebani anggaran TNI?," tanya TB Hasanuddin. Meski demikian, akhirnya toh DPR menyetujui proses penerimaan hibah kapal perang tersebut. (MAR)