11 Bagian Buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’
Nagara Institute menerbitkan cetakan pertama buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’ setebal 304 halaman dengan nomor ISBN resmi 987-967-8519-93-8. Buku berukuran 14 x 21 sentimeter ini mengelompokkan kegelisahan publik ke dalam sebelas bagian pembahasan utama, yaitu:
Bagian I - Pendahuluan: Transformasi Ruang Publik Digital
Bab 1: Transformasi Demokrasi dan Ruang Publik Digital
Bab 2: Dari Petisi 50 ke Change.org: Tradisi Lama dalam Ruang Baru
Bab 3: Ketika Klik Menjadi Aksi: Petisi dan Demokrasi Partisipartif Baru
Bab 4: Dari Jalanan ke Layar Sentuh: Evolusi Demokrasi di Era Digital
Bab 5: Ruang Publik Digital: Memberi Harapan, Tapi Masihkah Milik Warga?
Bab 6: Petisi Online: Aksi Spontan atau Alat Pengaruh?
Bagian II - Dari Klik ke Klaim: Arena Diskursif dan Interpelasi Warga
Bab 7: Petisi Digital dan Spektrum Diskursus Praktis: Dari Strategi ke Moralitas
Bab 8: Lebenswelt yang Terancam: Petisi Digital sebagai Perlawanan Kultural
Bab 9: Petisi sebagai Interpelasi Digital: Ruang Baru bagi Kontrol Warga terhadap Kekuasaan
Bab 10: Etika Diskursus: Membangun Kesepahaman di Tengah Perbedaan
Bagian III - Infrapolitik Digital: Perlawanan Halus dari Pinggiran
Bab 11: Melawan dari Pinggiran: Petisi Warga terhadap Ekspansi Tambang
Bab 12: Petisi dari Pinggiran: Membela Lebenswelt yang Terjajah
Bab 13: Suara dari Sekolah: Petisi Digital dan Pertarungan Akses Pendidikan
Bab 14: Tagar, Tanda Tangan, dan Mimpi tentang Negara yang Adil
Bab 15: Aksi Kolektif Digital: Dari Klik Sunyi ke Gerakan Terbuka
Bagian IV: Solidaritas Simbolik: Kuasa Emosi di Ruang Publik Digital
Bab 16: Politik Emosi dan Kuasa Simbolik: Dari Simpati ke Aksi
Bab 17: Politik Air Mata: Tragedi sebagai Pemantik Solidaritas
Bab 18: Antikorupsi: Dari Keprihatinan ke Tanda Tangan Publik
Bab 19: Politik Koin: Gotong Royong Digital dan Energi Solidaritas
Bab 20: Membela Lansia: Dari Emosi Kolektif ke Petisi Digital
Bab 21: Tragedi Kemanusiaan: Dari Afeksi ke Kesadaran Kolektif
Bagian V: Dari Klik ke Kebijakan: Menakar Daya Ubah Petisi Digital
Bab 22: No Viral, No Justice: Ketika Keadilan Bergantung pada Atensi Publik
Bab 23: Petisi untuk Keadilan: Ketika Tanda Tangan Menjadi Tekanan Publik
Bab 24: Ketika Warga Bicara, Siapa yang Mendengar?
Bab 25: Tingkat Partisipasi Melimpah; Tapi Apakah Kebijakan Berubah?
Bab 26: Jejak Petisi Digital: Dari yang Menggema hingga yang Terlupakan
Bab 27: Utopia Siber yang Retak: Masihkah Internet Bisa Membebaskan?
Bab 28: Petisi Deliberatif: Namun, Seberapa Sering Warga Didengar?
Bab 29: Menilai Efektivitas Petisi Digital: Bagaimana Mengukurnya?
Bagian VI: Framing dan Atensi: Menembus Medan Tempur Algoritma
Bab 30: Diskursus dan Algoritma: Kekuatan Resonansi Emosional Warga
Bab 31: Spektrum Suara Warga: Tipologi Petisi dan Wacana Publik
Bab 32: Komunikasi Dalam Arahan Algoritma: Antara Rasionalitas dan Viralitas
Bab 33: Membingkai Emosi: Strategi Framing dalam Kampanye Petisi
Bab 34: Ketika Kisah Menyentuh: Strategi Narasi dalam Petisi Digital
Bagian VII: Petisi Digital dan Ekosistem Media Sosial: Ruang Publik Baru bagi Demokrasi Siber
Bab 35: Ekosistem Platform Change.org dan Demokrasi Siber yang Bertumbuh
Bab 36: Lebih dari Klik: Tipologi Partisipasi Warga dalam Ekosistem Petisi Digital
Bab 37: Petisi Digital dan Ekosistem Media Sosial: Dari WhatsApp ke Trending Topic
Bab 38: Etika Warga Digital: Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Batasnya
Bab 39: Donasi, Solidaritas, dan Kemenangan: Menelisik Mekanisme Petisi dalam Ruang Publik Digital
Bab 40: Transparansi Dampak: Apa yang Terjadi Setelah Petisi "Menang"?
Bab 41: Hubungan Change.org Indonesia dengan Masyarakat Sipil dan Pemerintah
Bagian VIII: Etika Platform: Ketika Partisipasi Menjadi Komoditas
Bab 42: Etika Data, Pengawasan, dan Hak Warga Digital
Bab 43: Reproduksi Ketidakadilan Digital: Modal Teknologi dan Modal Simbolik
Bab 44: Pembatasan, Pengawasan, dan Komodifikasi di Ruang Siber
Bab 45: Tantangan Hukum dan Regulasi Demokrasi Siber
Bab 46: Shadowbanning dan Moderasi Sunyi: Ketika Suara Dibungkam Secara Tak Kasat Mata
Bab 47: Platformisasi Demokrasi: Dari Infrastruktur ke Mediasi Politik
Bab 48: Algoritma sebagai Penentu Arah Demokrasi
Bab 49: Teknologi, Kuasa, dan Ruang Publik Baru: Dari Determinasi ke Emansipasi
Bagian IX: Komunitas Digital: Resonansi Afeksi dan Ruang Deliberasi
Bab 50: Civil Society dan Petisi Digital: Kekuatan Baru Demokrasi Digital
Bab 51: Komunitas Virtual dan Solidaritas Digital: Jejaring Baru Masyarakat Sipil
Bab 52: Dari Aktivis ke Influencer: Evolusi Masyarakat Sipil di Era Digital
Bab 53: Kekuatan Solidaritas Digital: Dari Komentar ke Komitmen
Bagian X: Demokrasi, Viralitas dan Post-Truth: Antara Afeksi dan Manipulasi
Bab 54: Ilusi Partisipasi dan Kritik terhadap Clicktivism
Bab 55: Demokrasi dalam Era Disinformasi: Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab Digital
Bab 56: Hoaks dan Disinformasi Digital: Ketika Kebohongan Menjadi Strategi Politik
Bab 57: Clickbait dan Politik Afeksi: Antara Judul, Emosi, dan Partisipasi Semu
Bab 58: Distorsi Informasi: Perebutan Opini Influencer dan Buzzer
Bagian XI: Jalan Menuju Demokrasi Digital: Harapan dan Solusi
Bab 59: Ekosistem Digital: Jalan Pembuka Menuju Demokrasi Digital
Bab 60: Media Baru, Generasi Baru, dan Harapan Masa Depan Demokrasi Digital
Bab 61: Kedaulatan Digital: Demokrasi Algoritma dan Data
Bab 62: Belajar dari Petisi Manca Negara: Dunia yang Mudah Terhubung
Bab 63: Keberadaan Platform Digital dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia
Bab 64: Demokrasi Digital: Tantangan Baru Pasca-Agustus 2025. (ADR)































