AFU.id

Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Perkembangan teknologi siber hari ini mengubah lanskap politik dan cara masyarakat berinteraksi di ruang publik siber.Raksasa teknologi mengendalikan percakapan masyarakat melalui sistem kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) yang tertanam kuat dalam setiap aplikasi gawai.Dr. Andi Ilham Paulangi, M.Si., pun menulis buku berjudul ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’ untuk menjawab tantangan demokrasi digital tersebut.

Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z
Cover buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’ karya Dr. Andi Ilham Paulangi, M.Si., terbitan Nagara Institute. (Foto: AFU.ID)

11 Bagian Buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’

Nagara Institute menerbitkan cetakan pertama buku ‘Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z’ setebal 304 halaman dengan nomor ISBN resmi 987-967-8519-93-8. Buku berukuran 14 x 21 sentimeter ini mengelompokkan kegelisahan publik ke dalam sebelas bagian pembahasan utama, yaitu:

Bagian I - Pendahuluan: Transformasi Ruang Publik Digital

  • Bab 1: Transformasi Demokrasi dan Ruang Publik Digital

  • Bab 2: Dari Petisi 50 ke Change.org: Tradisi Lama dalam Ruang Baru

  • Bab 3: Ketika Klik Menjadi Aksi: Petisi dan Demokrasi Partisipartif Baru

  • Bab 4: Dari Jalanan ke Layar Sentuh: Evolusi Demokrasi di Era Digital

  • Bab 5: Ruang Publik Digital: Memberi Harapan, Tapi Masihkah Milik Warga?

  • Bab 6: Petisi Online: Aksi Spontan atau Alat Pengaruh?

Bagian II - Dari Klik ke Klaim: Arena Diskursif dan Interpelasi Warga

  • Bab 7: Petisi Digital dan Spektrum Diskursus Praktis: Dari Strategi ke Moralitas

  • Bab 8: Lebenswelt yang Terancam: Petisi Digital sebagai Perlawanan Kultural

  • Bab 9: Petisi sebagai Interpelasi Digital: Ruang Baru bagi Kontrol Warga terhadap Kekuasaan

  • Bab 10: Etika Diskursus: Membangun Kesepahaman di Tengah Perbedaan

Bagian III - Infrapolitik Digital: Perlawanan Halus dari Pinggiran

  • Bab 11: Melawan dari Pinggiran: Petisi Warga terhadap Ekspansi Tambang

  • Bab 12: Petisi dari Pinggiran: Membela Lebenswelt yang Terjajah

  • Bab 13: Suara dari Sekolah: Petisi Digital dan Pertarungan Akses Pendidikan

  • Bab 14: Tagar, Tanda Tangan, dan Mimpi tentang Negara yang Adil

  • Bab 15: Aksi Kolektif Digital: Dari Klik Sunyi ke Gerakan Terbuka

Bagian IV: Solidaritas Simbolik: Kuasa Emosi di Ruang Publik Digital

  • Bab 16: Politik Emosi dan Kuasa Simbolik: Dari Simpati ke Aksi

  • Bab 17: Politik Air Mata: Tragedi sebagai Pemantik Solidaritas

  • Bab 18: Antikorupsi: Dari Keprihatinan ke Tanda Tangan Publik

  • Bab 19: Politik Koin: Gotong Royong Digital dan Energi Solidaritas

  • Bab 20: Membela Lansia: Dari Emosi Kolektif ke Petisi Digital

  • Bab 21: Tragedi Kemanusiaan: Dari Afeksi ke Kesadaran Kolektif

Bagian V: Dari Klik ke Kebijakan: Menakar Daya Ubah Petisi Digital

  • Bab 22: No Viral, No Justice: Ketika Keadilan Bergantung pada Atensi Publik

  • Bab 23: Petisi untuk Keadilan: Ketika Tanda Tangan Menjadi Tekanan Publik

  • Bab 24: Ketika Warga Bicara, Siapa yang Mendengar?

  • Bab 25: Tingkat Partisipasi Melimpah; Tapi Apakah Kebijakan Berubah?

  • Bab 26: Jejak Petisi Digital: Dari yang Menggema hingga yang Terlupakan

  • Bab 27: Utopia Siber yang Retak: Masihkah Internet Bisa Membebaskan?

  • Bab 28: Petisi Deliberatif: Namun, Seberapa Sering Warga Didengar?

  • Bab 29: Menilai Efektivitas Petisi Digital: Bagaimana Mengukurnya?

Bagian VI: Framing dan Atensi: Menembus Medan Tempur Algoritma

  • Bab 30: Diskursus dan Algoritma: Kekuatan Resonansi Emosional Warga

  • Bab 31: Spektrum Suara Warga: Tipologi Petisi dan Wacana Publik

  • Bab 32: Komunikasi Dalam Arahan Algoritma: Antara Rasionalitas dan Viralitas

  • Bab 33: Membingkai Emosi: Strategi Framing dalam Kampanye Petisi

  • Bab 34: Ketika Kisah Menyentuh: Strategi Narasi dalam Petisi Digital

Bagian VII: Petisi Digital dan Ekosistem Media Sosial: Ruang Publik Baru bagi Demokrasi Siber

  • Bab 35: Ekosistem Platform Change.org dan Demokrasi Siber yang Bertumbuh

  • Bab 36: Lebih dari Klik: Tipologi Partisipasi Warga dalam Ekosistem Petisi Digital

  • Bab 37: Petisi Digital dan Ekosistem Media Sosial: Dari WhatsApp ke Trending Topic

  • Bab 38: Etika Warga Digital: Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Batasnya

  • Bab 39: Donasi, Solidaritas, dan Kemenangan: Menelisik Mekanisme Petisi dalam Ruang Publik Digital

  • Bab 40: Transparansi Dampak: Apa yang Terjadi Setelah Petisi "Menang"?

  • Bab 41: Hubungan Change.org Indonesia dengan Masyarakat Sipil dan Pemerintah

Bagian VIII: Etika Platform: Ketika Partisipasi Menjadi Komoditas

  • Bab 42: Etika Data, Pengawasan, dan Hak Warga Digital

  • Bab 43: Reproduksi Ketidakadilan Digital: Modal Teknologi dan Modal Simbolik

  • Bab 44: Pembatasan, Pengawasan, dan Komodifikasi di Ruang Siber

  • Bab 45: Tantangan Hukum dan Regulasi Demokrasi Siber

  • Bab 46: Shadowbanning dan Moderasi Sunyi: Ketika Suara Dibungkam Secara Tak Kasat Mata

  • Bab 47: Platformisasi Demokrasi: Dari Infrastruktur ke Mediasi Politik

  • Bab 48: Algoritma sebagai Penentu Arah Demokrasi

  • Bab 49: Teknologi, Kuasa, dan Ruang Publik Baru: Dari Determinasi ke Emansipasi

Bagian IX: Komunitas Digital: Resonansi Afeksi dan Ruang Deliberasi

  • Bab 50: Civil Society dan Petisi Digital: Kekuatan Baru Demokrasi Digital

  • Bab 51: Komunitas Virtual dan Solidaritas Digital: Jejaring Baru Masyarakat Sipil

  • Bab 52: Dari Aktivis ke Influencer: Evolusi Masyarakat Sipil di Era Digital

  • Bab 53: Kekuatan Solidaritas Digital: Dari Komentar ke Komitmen

Bagian X: Demokrasi, Viralitas dan Post-Truth: Antara Afeksi dan Manipulasi

  • Bab 54: Ilusi Partisipasi dan Kritik terhadap Clicktivism

  • Bab 55: Demokrasi dalam Era Disinformasi: Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab Digital

  • Bab 56: Hoaks dan Disinformasi Digital: Ketika Kebohongan Menjadi Strategi Politik

  • Bab 57: Clickbait dan Politik Afeksi: Antara Judul, Emosi, dan Partisipasi Semu

  • Bab 58: Distorsi Informasi: Perebutan Opini Influencer dan Buzzer

Bagian XI: Jalan Menuju Demokrasi Digital: Harapan dan Solusi

  • Bab 59: Ekosistem Digital: Jalan Pembuka Menuju Demokrasi Digital

  • Bab 60: Media Baru, Generasi Baru, dan Harapan Masa Depan Demokrasi Digital

  • Bab 61: Kedaulatan Digital: Demokrasi Algoritma dan Data

  • Bab 62: Belajar dari Petisi Manca Negara: Dunia yang Mudah Terhubung

  • Bab 63: Keberadaan Platform Digital dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia

  • Bab 64: Demokrasi Digital: Tantangan Baru Pasca-Agustus 2025. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi