JAKARTA, AFU.ID - Fenomena gesekan antara Generai Z (Gen Z) dan dunia kerja terjadi di banyak negara. Hanya saja di negara maju seperti Amerika Serikat (AS) permasalahannya jauh berbeda dengan di Indonesia. Di AS, berdasarkan survei Intelligent mengungkapkan, enam dari 10 perusahaan memilih memecat karyawan Gen Z beberapa bulan setelah mereka bekerja.
Profesor New York University (NYU), Suzy Welch mengatakan, hanya 2 persen dari Generasi Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. Kesimpulan itu didapatkan Suzy setelah meneliti nilai-nilai yang dianut Gen Z melalui alat bernama The Values Bridge guna memetakan prioritas hidup seseorang berdasarkan nilai, bakat, dan minat.
"Ada 98 persen yang tidak memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan, hanya 2 persen yang memilikinya itu angka yang sangat besar," kata Welch seperti dikutip Kompas.com, Kamis (7/5/2026).
Riset ini melibatkan sekitar 200 ribu orang untuk mengikuti tes tersebut dalam setahun terakhir. Tiga hal utama yang paling dijunjung Gen Z ialah perawatan diri, kebebasan mengekspresikan diri secara autentik, serta keinginan membantu orang lain. "Bagi para manajer perekrutan, nilai nomor satu yang mereka cari adalah prestasi, keinginan untuk menang. Nilai nomor dua yang mereka cari adalah fokus pada pekerjaan, keinginan untuk bekerja," jelas Welch.
"Ketiga adalah ruang lingkup, yaitu keinginan untuk belajar, beraktivitas, dan berpetualang yang umumnya, saya akan menerjemahkannya di tempat kerja sebagai perjalanan," imbuh dia.
Perusahaan biasanya menginginkan pekerja untuk peduli pada kemenangan dan bekerja, sementara karyawan Gen Z lebih peduli pada perawatan diri dan individualitas. Welch menyebut, pekerja muda beranggapan bahwa pola kerja generasi sebelumnya tidak selalu menghasilkan kehidupan yang stabil.
Karenanya, mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibandingkan mengejar karier secara agresif. "Gen Z pada dasarnya mengatakan 'Saya tidak suka aturan-aturan itu. Itu adalah nilai-nilai Anda dan itu tidak berjalan dengan baik untuk generasi Anda. Saya tidak akan menerimanya. Orangtua saya memiliki nilai-nilai itu dan mereka menganggur pada usia 54 tahun'," tutur Welch.
Welch menegaskan dirinya tidak menganggap nilai-nilai yang dianut kebanyakan Gen Z sebagai sesuatu yang salah. Pekerja muda tidak perlu mengubah prinsip hidup mereka hanya demi menyesuaikan diri dengan dunia kerja. "Jika mereka mempertahankan prinsip yang seharusnya mereka pertahankan tidak seorang pun boleh mengubahnya," ujarnya.
Hanya saja yang harus disadari para Gen Z, mereka harus memahami bahwa ada konsekuensinya dan tidak akan mendapatkan jenis pekerjaan yang mungkin telah dipersiapkan sesuai gelar sarjana mereka. Welch menjelaskan, beberapa perusahaan yang sempat berdiskusi dengannya mengaku, saat ini tengah berjuang mati-matian untuk mendapatkan 2 persen pekerja sesuai standar.
Akibat pola pikir yang berbeda dari budaya perusahaan, banyak Gen Z di AS kemudian menganggur. Berdasarkan data Federal Reserve New York pada akhir 2025, tingkat pengangguran lulusan baru di Amerika Serikat mencapai 5,7 persen atau sekitar 1,5 poin lebih tinggi dibanding kelompok usia lain.
Hal tersebut dipengaruhi perubahan struktural perusahaan ataupun perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Welch mengatakan, dia sempat bertemu seorang mahasiswi berbakat lalu kesulitan mendapatkan pekerjaan, kendati memiliki kemampuan akademik yang bagus.
"Lulusan baru disarankan lebih membuka diri terhadap berbagai jenis pekerjaan serta tidak hanya terpaku pada jalur karier sesuai jurusan kuliah," ujarnya.
Fenomena serupa juga sebenarnya terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, kelompok usia 15-24 tahun (yang mencakup sebagian besar Gen Z) menyumbang angka pengangguran tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 16,42%. Data dari Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), bahkan lebih dahsyat lagi, sekitar 67% total pengangguran Indonesia berasal dari Gen Z usia 15–29 tahun. Jumlahnya mencapai sekitar 4,9 juta orang
“Jadi ini menjadi kendala saat ini, yaitu tidak cukupnya lapangan pekerjaan. Dampaknya sangat berpengaruh karena tingginya angka pengangguran usia muda. Jadi 67% total pengangguran yang ada adalah Gen Z,” ujar Ketua Apindo Shinta Kamdani.
Shinta mengatakan, banyak di antaranya kemudian terpaksa bekerja di sektor informal dengan durasi kerja minim. Shinta menambahkan, jumlah pekerja mandiri atau gig worker melonjak tajam hingga 31,5 juta orang.
Selain masalah skill dan pengetahuan yang tidak sesuai kebutuhan industri, manajer perekrutan di Indonesia juga sering mengeluhkan rendahnya retensi (daya tahan) karyawan Gen Z. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengutamakan loyalitas jangka panjang, Gen Z di Indonesia cenderung lebih cepat resign jika lingkungan kerja dianggap toksik atau tidak mendukung keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance).
Survei dari berbagai platform rekrutmen lokal menunjukkan bahwa bagi Gen Z Indonesia, fleksibilitas kerja (WFA/Hybrid) dan transparansi gaji adalah prioritas utama. Jika perusahaan tidak menawarkan ini, mereka tidak ragu untuk mencari peluang lain dalam hitungan bulan.
Para praktisi HR di Indonesia juga sering menyoroti beberapa poin "benturan" nilai yang dialami Gen Z. Ada persepsi di kalangan manajer bahwa Gen Z lebih mudah menyerah saat menghadapi tekanan tinggi atau kritik keras dibandingkan generasi milenial atau Gen X. Gen Z juga kurang menguasai komunikasiprofesional. Mereka cenderung menggunakan bahasa yang terlalu kasual atau kurangnya pemahaman terhadap hierarki kantor sering menjadi pemicu gesekan dengan atasan.
Meski demikian, Gen Z juga memiliki sisi positif yang tak kalah menarik bagi industri Di industri kreatif, startup, dan e-commerce, Gen Z dianggap sebagai aset karena kemampuan mereka memahami tren media sosial dan teknologi terbaru jauh lebih cepat dibandingkan generasi di atas mereka.
Karena itu menurut Shinta Kamdani, dengan dominasi Gen Z dalam angka pengangguran nasional, Apindo menekankan perlunya kebijakan yang lebih konkret untuk menciptakan lapangan kerja formal dan berkelanjutan. "Tanpa langkah strategis, generasi muda berisiko terus terjebak dalam pekerjaan informal yang rentan, sehingga menghambat produktivitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia," tegasnya.
MAR