JAKARTA, AFU.ID - Yasinta Moiwend atau Mama Sinta merupakan seorang aktivis dari Suku Marind-Anim di Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan. Tempat ini sangat terpencil, akses transportasi umum tidak mudah. Kalaupun ada, ongkosnya mahal.
Jalan darat masih minim. Urusan transportasi, banyak bergantung pada kapal sungai atau penerbangan kecil yang tidak bisa langsung dipesan di hari itu juga. Perjalanan mendadak ke Jakarta tanpa dukungan logistik yang jelas, adalah fenomena yang sulit bisa dilakukan sendirian oleh seorang tokoh adat yang usianya tidak muda lagi.
Atas kejanggalan ini, keluarganya mempertanyakan bagaimana Mama Sinta bisa tiba-tiba di Jakarta. Anak kandung Mama Sinta mengaku sudah kehilangan kontak dengan ibunya sejak video terkait perjuangan tanah adat Papua viral di media sosial, Minggu (24/5/2026).
“Hari Minggu saat itu beliau tidak bermalam di rumahnya, tetapi beliau bermalam di pos TNI di Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab,” ucapnya, mengutip Jubi Media, Minggu (31/5/2026).
Keluarga menduga, hari Minggu itu Mama Sinta diberangkatkan menggunakan kapal laut menuju Merauke, tetapi ada kabar lagi bahwa dirinya akan diterbangkan ke Timika menggunakan pesawat terbang.
Hingga hari Jumat (29/5), pihak keluarga mengaku tidak mengetahui keberadaan Mama Sinta. Namun, keluarga mengaku berhasil melakukan komunikasi dengan Mama Sinta setelah dirinya berada di Polda Metro Jaya.
“Beliau ini diduga diintimidasi, ditekan sehingga bisa mengikuti atau meng-cover kegiatan dia selama 3 tahun mulai dari 2024 sampai 2026,” ungkapnya.
Artinya, jika Mama Sinta melapor dengan sukarela kepada Polisi terkait wajahnya yang muncul terus-menerus dalam film “Pesta Babi”, sama saja dengan membenturkan Mama Sinta dengan narasi yang selama ini dia perjuangkan sendiri.
“Mama membenturkan diri dengan mengikuti oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membenturkan atau memuluskan program PSN di atas tanah Papua ini untuk merusak hutan-hutan kami, untuk menggerogoti hidup-hidup kami di tanah Papua ini,” ujarnya.
Klarifikasi Mama Sinta
Sebelumnya, Mama Sinta membantah dirinya diintimidasi aparat TNI dan diterbangkan ke Jakarta menggunakan pesawat pribadi. Kedatangannya ke Jakarta murni atas inisiatif dan biaya pribadi.
Tujuannya, untuk menuntut keadilan atas pencatutan wajahnya tanpa izin dalam film dokumenter berjudul "Pesta Babi".
Bantahan ini merespons beredarnya narasi dari akun media lokal @laolao_papua yang menarasikan bahwa dirinya dijemput paksa dan difasilitasi PT Jhonlin Group.
"Itu tidak benar. Saya naik pesawat biasa dengan penumpang. Saya tidak naik kapal ke Merauke atau ke Boven Digoel dengan pesawat helikopternya Haji Isam. Itu tidak ada," tegas Mama Sinta dikutip Minggu (31/5/2026).
Terkait isu keterlibatan aparat, perempuan berusia 62 tahun ini juga menepis keras adanya ancaman dari pihak militer. “Kenapa kalian yang repot dengan saya? Saya datang ke Jakarta karena harga diri saya," ujarnya.
Mama Sinta meminta publik dan pihak-pihak tertentu untuk tidak mengaitkan urusan pribadinya dengan isu Proyek Strategis Nasional (PSN).
Ia merasa martabatnya sebagai orang tua dan perempuan Papua direndahkan karena wajahnya terus-menerus ditampilkan dalam pemutaran film "Pesta Babi" tanpa sepengetahuan dan izin darinya.
"Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta," tuturnya.
Untuk menempuh jalur hukum, Mama Sinta didampingi kuasa hukumnya, TS Hamonangan Daulay, telah menyambangi Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada Jumat 29 Mei 2026.
Laporan tersebut telah resmi diterima dengan nomor register LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya. Pihak penyelenggara film dilaporkan atas dugaan pelanggaran Pasal 65 juncto Pasal 67 UU Pelindungan Data Pribadi.
Dandhy: Hormati Keputusan Mama Sinta
Sutradara film dokumenter Pesta Babi, Dandhy Laksono mengaku tidak mempersoalkan keputusan Mama Sinta, justru dirinya menyayangkan kenapa saat tanah ulayat Papua dirampas, justru tidak ada yang mau membiayai penerbangan ke Jakarta untuk menyampaikan aspirasi mereka.
"Kami hormati pilihan Mama Yasinta. Sebagaimana kami menghormati hak setiap orang untuk tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di Papua," ujar Dandhy, seperti dikutip Kompas, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Dandhy, ketika masyarakat adat Papua menghadapi persoalan yang lebih besar, termasuk dugaan perampasan tanah ulayat, tidak banyak pihak yang hadir untuk memberikan pendampingan.
"Waktu tanah ulayatnya diambil tanpa izin, mereka tak datang menjemput dan mengantarnya ke Jakarta untuk lapor polisi," tegas Dandhy.
Ia mengatakan selama ini justru banyak pengacara muda dari kalangan masyarakat adat yang mendampingi warga secara sukarela tanpa menerima bayaran.
"Yang datang adalah anak-anak adat yang jadi pengacara pro bono karena solidaritas dan ingin ikut melindungi tanah moyangnya," lanjutnya.
Meski tengah menjadi sorotan, Dandhy menegaskan tim kolaborator film Pesta Babi tidak memiliki niat menyudutkan Mama Sinta.
Sebaliknya, ia meminta publik tidak memberikan stigma negatif ataupun menghakimi perempuan adat tersebut atas keputusan yang diambilnya saat ini.
Menurutnya, perjuangan yang dilakukan Mama Sinta telah berlangsung jauh sebelum proses produksi film dokumenter Pesta Babi dilakukan. (EER)